“PMI itu kan cerminan dari ekspektasi pelaku usaha ke depan. Ketika mereka pesimis, logikanya mereka akan menahan ekspansi. Tapi di data BPS justru PMTB melonjak, ini jadi janggal,” tambahnya.
Ia juga mempertanyakan validitas data pertambahan nilai ekonomi (value added) sebagai fondasi pertumbuhan. “Kalau penerimaan PPN yang berasal dari value added melambat, mustahil sebenarnya pertumbuhan ekonomi bisa melonjak. Kecuali ada masalah di sisi pencatatan pajak atau asumsi yang digunakan,” kata Piter.
Meskipun menyambut positif pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi pasar, ia menegaskan pentingnya transparansi dan penjelasan lebih rinci dari Badan Pusat Statistik (BPS).
“Kita semua ingin ekonomi tumbuh, tapi angka-angka yang keluar harus bisa dipertanggungjawabkan. Kalau tidak sinkron dengan indikator lain, perlu ada penjelasan terbuka,” ujarnya.
Piter memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III dan IV tidak akan melonjak signifikan. Ia menyebut faktor musiman seperti Ramadan dan Lebaran telah lewat, dan kuartal III cenderung minim penggerak ekonomi yang kuat.
“Tantangan di semester dua cukup besar. Suku bunga memang mulai turun, tapi sentimen global belum membaik. AS belum ganti presiden, hambatan dagang dari Trump bisa mengganggu perekonomian global,” ucap dia.
Ia menilai pendorong utama ekonomi Indonesia tetap berasal dari dalam negeri, utamanya konsumsi dan investasi.
“Kalau investasi bisa dipertahankan dan konsumsi berhasil ditingkatkan lewat kebijakan yang tepat, maka kita bisa mempertahankan pertumbuhan di atas 5,1%,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 berada di level 5,12% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka pertumbuhan ini tercatat lebih tinggi dibanding kinerja kuartal I 2025 yang sebesar 4,87%,
Level kinerja ekonomi ini juga jauh lebih tinggi dibanding konsensus Bloomberg yang menghasilkan median proyeksi pertumbuhan ekonomi Ibu Pertiwi sebesar 4,8%.
"Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2025 tercatat 5,12% secara tahunan dibanding kuartal II 2024. Angka pertumbuhan secara kuartalan 4,04% dibanding kuartal sebelumnya," ujar Moh. Edy Mahmud, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS dalam Konferensi Pers, Selasa (5/8/2025).
(ain)



























