Adapun, Kementerian ESDM memperkirakan ekosistem kendaraan listrik dunia membutuhkan sekitar 3.5000 GWh baterai pada 2030 mendatang.
Potensi pasar baterai kendaraan listrik global pada 2030 diprediksi mencapai US$500 miliar.
Untuk diketahui, sejumlah proyek baterai tengah digarap di Tanah Air. Pemerintah memang berambisi menjadikan Indonesia sebagai raja baterai, untuk menopang asa menjadi hub kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) regional demi memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor.
Sejak proyek hilirisasi nikel digaungkan pada 2020, pemerintah gencar untuk mengajak investor asing menanamkan modal untuk membangun ekosistem industri baterai EV di Indonesia.
Lewat Indonesia Battery Corporation (IBC), misalnya, pemerintah mendesain proyek ekosistem baterai EV yang bertajuk Indonesia Grand Package.
Selain Proyek Titan dan Dragon yang digarap bersama IBC, Indonesia memiliki sejumlah proyek baterai EV lain yang sedang dikembangkan di dalam negeri; baik yang terintegrasi dari hulu ke hilir, maupun yang hanya berfokus di lini hilir seperti sel dan paket baterai saja.
Peluang Lain PLTS Kopdes
Belakangan, Bahlil turut membeberkan potensi pasar yang besar dari program PLTS yang akan didorong oleh Koperasi Desa Merah Putih.
Rencanannya, PLTS itu bakal dibangun tersebar di 80.000 Koperasi Merah Putih dengan kapasitas setrum mencapai 100 GW. Adapun, nilai investasi dari PLTS Kopdes itu diperkirakan mencapai US$100 miliar.
Secara rinci, 80.000 koperasi diprediksi menghasilkan listrik 80 GW dan 20 GW sisanya merupakan listrik hasil sentra PLTS Kabupaten/Kota.
“Salah satu yang kita akan bangun itulah PLTS untuk semua desa-desa. Semua kampung-kampung kita pakai PLTS,” kata Bahlil di sela International Battery Summit 2025, Selasa (5/8/2025).
Menurut Bahlil, rencana itu menjadi peluang bagi perusahaan baterai untuk memasok baterai di proyek PLTS Kopdes Merah Putih. Mengingat, PLTS hanya beroperasi optimal selama 4 jam sehari.
“Selebihnya kan dia harus disimpan lewat baterai. Pada saat malam baterai yang main. Nah ini saya lihat, saya kasih gambaran bahwa peluang pasar di Indonesia itu cukup besar,” ucap Bahlil.
Komitmen pemerintah pusat untuk menaikkan rasio listrik desa belakangan tecermin lewat pagu anggaran yang dialokasikan untuk program ini.
Pemerintah menargetkan 780.000 rumah tangga di seluruh desa dapat mengakses aliran listrik selambatnya pada 2029, melalui program Listrik Desa (Lisdes) yang investasinya ditaksir mencapai Rp50 triliun.
Adapun, program Lisdes ditargetkan untuk mencakup penambahan kapasitas pembangkit listrik sepanjang 294 MW selama kurun 2025—2029.
Dalam paparan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025—2034, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjabarkan peta jalan pendanaan Lisdes untuk masing-masing tahun hingga 2029.
Khusus tahun ini, investasi untuk program Lisdes ditargetkan mencapai Rp4,52 triliun, dengan perincian Rp3,85 triliun untuk pembangunan jaringan listrik perdesaan, Rp0,22 triliun untukk peningkatan jam nyala 24 jam per hari, dan Rp0,45 triliun untuk bantuan pasang baru listrik (BPBL) atau instalasi gratis.
(azr/naw)






























