Logo Bloomberg Technoz

Pemerintah, tambah Henderson, juga menggenjot belanja bantuan sosial (bansos). Termasuk akselerasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Namun, semua itu rasanya belum cukup untuk mengkompensasi perlambatan konsumsi dan investasi, sebagaimana tercermin dari indikator berbagai aktivitas ekonomi,” tegas Henderson.

Sumber: Bloomberg

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat ke 4,78% yoy pada kuartal II-2025. Faktor pendorong pertumbuhan ekonomi adalah belanja pemerintah yang akan meningkat setelah pemerintah membuka blokir belanja untuk Kementerian/Lembaga (K/L) yang sebelumnya tertahan oleh kebijakan efisiensi atau realokasi anggaran.

"Periode hari libur nasional yang cukup banyak ditambah dengan gaji ke-13 Aparatur Sipil Negara akan dapat menopang pertumbuhan konsumsi masyarakat," ujar Josua.

Investasi diproyeksi bisa meningkat sejalan dengan pembukaan blokir anggaran belanja K/L dan juga tensi perang dagang yang menurun.

Namun secara tahunan, terdapat efek dasar tinggi (high base effect) dari tahun lalu karena setengah Ramadan dan Idul Fitri jatuh pada kuartal II-2024.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) juga sudah menyoroti soal risiko perlambatan ekonomi pada kuartal II-2025. Pertumbuhan ekonomi seperinya akan terhambat oleh pelemahan konsumsi rumah tangga, meski kinerja ekspor cukup baik.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan pertumbuhan ekonomi indonesia perlu terus didorong, di tengah prospek ekonomi global yang melemah. Pada kuartal II 2025, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh investasi non-bangunan di sektor transportasi.

"Kinerja ekspor cukup baik ditopang oleh ekspor sda dan produk manufaktur. Sementara itu, konsumsi rumah tangga masih perlu ditingkatkan tercermin pada penjualan eceran yang melambat," ucap Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) pertengahan bulan lalu.

Secara sektoral, lanjut Perry, lapangan usaha pertanian tetap tumbuh, ditopang kinerja subsektor perkebunan dan dukungan program pemerintah. Sedangkan, kinerja beberapa lapangan usaha utama lainnya, seperti industri pengolahan dan penyediaan akomodasi, serta industri makanan dan minuman belum kuat.

"Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua masih tumbuh di atas 5% sedangkan wilayah lainnya masih belum meningkat," tutur Perry.

(aji)

No more pages