Bahlil mengeklaim pendalaman yang dilakukan Kementerian ESDM bertujuan agar Muhammadiyah mendapatkan tambang yang layak dan berkualitas untuk dikelola, sebagaimana yang dilakukan juga terhadap Nahdlatul Ulama (NU).
“Itu kan kita kemarin sudah kita dorong, tetapi kita lagi mengkaji kembali, yang harus kita kasih itu kan harus yang bagus. Jangan sampai yang jelek. Kalau yang kurang bagus, kan sayanya nggak adil dong. Lagi kita carikan yang bagus deh,” tegas Bahli.
Sebelumnya, Perwakilan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Syahrial Suandi menegaskan Muhammadiyah belum memperoleh Surat Keputusan (SK) tentang wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) dari pemerintah.
“Sejauh ini kita belum menerima IUP-nya, tetapi seperti yang kita ketahui kemarin ini kan informasinya kan bekas PKP2B yang Adaro,” ucapnya, awal tahun ini.
Syahrial mengatakan hingga kini Muhammadiyah masih meninjau aspek teknis, cadangan, hingga infrastruktur terkait dengan tambang eks Adaro bisa dijalankan dengan baik. Selain itu, Muhammadiyah juga tengah melakukan sejumlah evaluasi tambang tersebut.
Sekadar catatan, pemerintah memang menyiapkan enam WIUPK, yang merupakan eks PKP2B, untuk diberikan kepada organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan.
Beberapa di antaranya antara lain, tambang batu bara bekas milik PT Arutmin Indonesia, PT Kendilo Coal Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, PT Adaro Energy Tbk, PT Multi Harapan Utama (MAU), dan PT Kideco Jaya Agung.
Salah satu ormas keagamaan yang telah mendapatkan IUP yakni Nahdlatul Ulama (NU). NU mendapatkan IUP di lahan tambang eks perusahaan pemegang PKP2B, PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla mengungkapkan saat ini organisasinya tengah berproduksi tahap awal. NU menargetkan pada pertengahan tahun atau paling lambat akhir tahun ini, lahan bekas tambang KPC dapat menghasilkan batu bara.
Dalam menggarap lahan tambang itu, Ulil menuturkan NU sudah bekerja sama dengan perusahaan swasta nasional sebagai investor. Sayangnya, Ulil enggan menyebut perusahaan swasta mana yang bergabung dengan NU untuk menggarap tambang eks PKP2B tersebut.
"Kita sekarang dalam proses menuju kepada produksi awal ya. Insyallah pertengahan menjelang akhir [tahun] kita produksi. Akan tetapi, tahun ini insyallah kita sudah optimistis, sudah bisa produksi," kata Ulil, awal tahun ini.
(azr/wdh)




























