Angka penjualan menunjukkan bahwa potongan harga hingga 34% yang diberlakukan BYD pada beberapa model akhir Mei lalu belum cukup mendongkrak penjualan seperti yang diharapkan. Di pasar domestik utama China, penjualan mobil penumpang BYD justru menurun selama tiga bulan berturut-turut. Perhatian publik dan regulator terhadap strategi diskon ini turut memperburuk prospek perusahaan untuk paruh kedua tahun ini.
Kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan margin laba telah membuat nilai perusahaan turun hingga US$20 miliar. Diskon agresif tersebut juga memicu reaksi dari regulator, yang mengecam praktik “persaingan tarif” dan mengimbau pelaku industri agar lebih bijak dalam mengatur harga jual.
Meski momentum pasar domestik di China melambat, BYD tetap berhasil menjaga pertumbuhan kuat di kawasan Eropa.
Data dari Jato Dynamics menunjukkan penjualan BYD hampir menyamai angka registrasi Tesla Inc. di Eropa pada Mei, memperkuat performa yang sebelumnya sudah melampaui rival asal AS itu pada April. Berdasarkan data dari lembaga riset Dataforce, penjualan BYD di Eropa hampir naik empat kali lipat sepanjang empat bulan pertama 2025.
Menghadapi tekanan regulator, BYD telah mengakhiri sebagian diskon di pasar China dan ikut menandatangani komitmen kolektif industri untuk menstandarkan tenggat pembayaran tagihan kepada pemasok menjadi maksimal 60 hari. Otoritas kini juga tengah menyoroti praktik pembiayaan rantai pasok yang dinilai menyerupai bentuk utang tersembunyi.
Kenaikan penjualan ini membawa total performa BYD hingga Juni menjadi 2,1 juta unit. Artinya, perusahaan harus menjual rata-rata 559.000 unit per bulan selama enam bulan ke depan agar bisa mencapai target tahun ini.
(bbn)
































