Logo Bloomberg Technoz

Menariknya, pendiri HokBen, Hendra Arifin, tidak memiliki latar belakang di bidang kuliner. Pada awal 1980-an, ia bekerja di sektor otomotif. Ide untuk membuka restoran Jepang muncul karena saat itu, makan di restoran Jepang masih dianggap sebagai gaya hidup mewah dan mahal.

Melihat peluang pasar yang belum tergarap, Hendra Arifin memutuskan untuk belajar langsung ke Jepang. Di sana, ia membeli sistem operasional serta merek Hoka Hoka Bento dari pemilik aslinya yang kemudian berhenti beroperasi. Sejak saat itu, ia membangun bisnis ini secara mandiri di Indonesia.

Gerai Pertama HokBen dan Perjalanan Ekspansinya

Restoran Hoka Hoka Bento (Dok. IG @hokben_id)

Gerai pertama HokBen dibuka di kawasan Kebon Kacang, Jakarta. Awalnya, restoran ini hanya melayani pemesanan makanan untuk dibawa pulang (take away). Namun, seiring waktu dan peningkatan permintaan, HokBen mulai menyediakan layanan makan di tempat hingga seperti sekarang.

Berbeda dari banyak restoran cepat saji lainnya, HokBen bukanlah bisnis franchise. Semua gerai HokBen adalah milik perusahaan pusat yang dikelola langsung oleh PT Eka Bogainti. Strategi ini diambil untuk memastikan standar kualitas dan konsistensi rasa tetap terjaga di seluruh cabang.

Untuk menjamin kualitas makanan dan proses produksi yang higienis, Hendra Arifin membangun fasilitas produksi sendiri di beberapa kota strategis seperti Ciracas, Bogor, Yogyakarta, dan Surabaya. Fasilitas ini tidak hanya memastikan suplai bahan makanan segar, tapi juga mempercepat distribusi ke gerai-gerai di berbagai wilayah Indonesia.

Dengan mengelola rantai pasokan secara internal, HokBen mampu menjaga standar mutu dan cita rasa yang menjadi ciri khasnya. Ini juga menjadi alasan mengapa pelanggan setia HokBen terus bertambah dari tahun ke tahun.

HokBen tidak hanya sukses mempertahankan keaslian rasa Jepang dengan sentuhan lokal, tetapi juga sigap dalam mengikuti perkembangan teknologi. Pada 2009, HokBen memperkenalkan layanan drive-thru, sebuah langkah progresif di era awal digitalisasi layanan makanan cepat saji.

Pada tahun 2016, HokBen meluncurkan aplikasi pemesanan online, yang memungkinkan pelanggan memesan makanan dari rumah atau kantor dengan lebih mudah. Inovasi ini menjadi kunci dalam mempertahankan eksistensi HokBen di tengah persaingan industri kuliner yang semakin ketat, terutama setelah pandemi yang mempercepat adopsi digital.

Meski berkonsep Jepang, HokBen berhasil meresap ke hati masyarakat Indonesia karena kemampuannya beradaptasi dengan selera lokal. Beberapa menu telah disesuaikan untuk lidah Nusantara, tanpa menghilangkan esensi Jepang-nya. Keberhasilan HokBen tidak hanya terletak pada menunya, tetapi juga pada konsistensi layanan, kecepatan penyajian, dan kenyamanan tempat makan.

Brand ini bahkan sering dijadikan studi kasus dalam dunia bisnis kuliner karena mampu mempertahankan relevansi selama hampir empat dekade. HokBen juga aktif dalam berbagai program CSR (Corporate Social Responsibility), termasuk donasi makanan dan kegiatan sosial, yang memperkuat citra positif perusahaan di mata publik.

HokBen menjadi contoh sukses dari brand lokal yang mampu tampil global dengan pendekatan unik. Meski tampil sebagai restoran Jepang, kepemilikannya 100% Indonesia, dengan pengelolaan profesional dan strategi bisnis yang cerdas.

Dengan dedikasi tinggi dari pendirinya, Hendra Arifin, serta inovasi yang terus dilakukan, HokBen berhasil mengukir namanya sebagai restoran cepat saji Jepang paling terkenal di Indonesia. Kisah HokBen menunjukkan bahwa dengan visi jelas dan kerja keras, brand lokal bisa bersaing dan bahkan lebih unggul dari merek internasional.

(seo)

No more pages

Artikel Terkait