Banyak pihak sebelumnya justru berharap Senat akan memperlonggar tenggat ini — bukan malah mempercepatnya.
Langkah-langkah Senat ini, yang bertujuan memangkas pengeluaran untuk menutup pemotongan pajak triliunan dolar, disebut "muncul entah dari mana" dan mengejutkan industri, menurut Ben King, Associate Director di kelompok riset energi dan iklim Rhodium Group.
Jika disahkan dalam bentuk saat ini, RUU bertajuk “One Big, Beautiful Bill” ini akan mengancam investasi senilai miliaran dolar dan memperlambat pengembangan energi bersih di tengah lonjakan permintaan listrik. RUU ini juga berisiko mendorong kenaikan tajam tagihan listrik rumah tangga.
“Sangat mengejutkan melihat Senat mengusulkan perubahan kebijakan yang akan menaikkan biaya energi secara drastis bagi konsumen mereka sendiri, sekaligus mengorbankan pertumbuhan lapangan kerja yang signifikan,” kata Jason Grumet, CEO Asosiasi Energi Bersih Amerika (ACP), kelompok industri energi bersih.
“Hal ini menunjukkan bahwa upaya mempolitisasi kembali isu ini telah mengalahkan kepentingan nyata para konstituen mereka.”
Senator Partai Republik seperti Joni Ernst dan Chuck Grassley dari Iowa, serta Lisa Murkowski dari Alaska, tengah mengupayakan amandemen untuk memperlunak penghapusan insentif dan menghapus pajak cukai yang diusulkan.
Pajak ini disebut “belum pernah terjadi sebelumnya,” dan “karena sifat ekstremnya, bisa jadi memotivasi senator kunci untuk mendukung penghapusannya,” tulis analis Capstone LLC dalam catatan riset mereka, Senin.
ACP memperkirakan pajak baru ini akan meningkatkan beban biaya bagi perusahaan energi bersih AS sebesar US$4 miliar hingga US$7 miliar dalam 10 tahun ke depan.
Sementara itu, Rhodium memproyeksikan biaya pembangunan proyek angin dan surya bisa naik 10% hingga 20%. Kenaikan biaya ini diprediksi akan menghambat ekspansi proyek baru.
Bahkan untuk proyek-proyek yang secara ekonomi kompetitif dengan gas alam, kebijakan ini dapat membuatnya “keluar dari zona layak secara finansial,” ujar King.
Dia menambahkan, ketidakpastian yang ditimbulkan oleh kebijakan yang belum pernah diterapkan sebelumnya ini dapat mendinginkan minat investasi di sektor energi terbarukan.
Lebih jauh lagi, usulan kebijakan saat ini berpotensi menghalangi penambahan kapasitas energi angin dan surya sebesar 300 gigawatt dalam 15 tahun ke depan — setara dengan output dari 300 reaktor nuklir, menurut estimasi ACP.
Ketika permintaan listrik melonjak, kekosongan kapasitas ini tidak akan mudah digantikan oleh gas alam yang kini menghadapi kelangkaan turbin, sementara pembangunan pembangkit nuklir memerlukan waktu bertahun-tahun.
Kekhawatiran industri tak datang sendirian. Lewat platform X, Elon Musk menyebut RUU ini sebagai “bunuh diri politik bagi Partai Republik” dan “sangat merusak serta tidak masuk akal” terhadap sektor energi.
Serikat buruh pun mengkritik keras potensi hilangnya lapangan kerja. Presiden North America’s Building Trades Unions, Sean McGarvey, menyebut RUU ini sebagai “RUU pembunuh lapangan kerja terbesar dalam sejarah negara ini.”
“Presiden telah meminta agar insentif energi terbarukan untuk angin dan surya dihentikan secepat mungkin, dan RUU Senat memenuhi permintaan itu,” kata juru bicara Gedung Putih Abigail Jackson lewat email.
Saat ditanya pada Senin tentang klaim bahwa pajak cukai ini setara dengan menghentikan lebih dari seribu proyek pipa Keystone XL, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa presiden memahami “legislator ingin melindungi lapangan kerja di komunitas dan distrik mereka,”
“Dan karena itu dia memahami mengapa sebagian dari mereka menentang ketentuan ini — namun dia juga memahami mengapa ketentuan ini diusulkan.”
Pemerintahan Trump diketahui telah aktif mengarahkan ulang kebijakan federal guna memprioritaskan bahan bakar fosil dibanding energi terbarukan.
Sejumlah lembaga pemerintah telah mencabut dukungan pinjaman senilai US$3,7 miliar untuk proyek listrik rendah emisi, serta secara tiba-tiba menghentikan pembangunan ladang angin lepas pantai selama berminggu-minggu — langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, insentif energi bersih dalam Undang-Undang Inflation Reduction Act justru mendorong masuknya investasi ke negara bagian dan distrik yang condong ke Partai Republik, membuat sebagian legislator berpikir ulang untuk mencabutnya.
Ketika perdebatan RUU terus berlangsung, satu hal menjadi jelas: versi saat ini menandai langkah mundur nyata dalam transisi energi, menurut Ben King dari Rhodium.“Dekarbonisasi bisa-bisa terhenti di titik sekarang,” katanya.
(bbn)































