Lebih lanjut Dadan menjelaskan bahwa kebijakan utama dari Badan Gizi Nasional untuk makan bergizi gratis (MBG) yakni mengutamakan potensi sumber daya lokal dan kesukaan masyarakat lokal.
Sebelumnya Staf Khusus Badan Gizi Nasional, Redi Hendra Gunawan menjelaskan perubahan menu MBG menjadi camilan ini ialah inisiatif dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) daerah, apalagi menyesuaikan keadaan siswa yang libur sekolah.
"Para siswa penerima manfaat sudah memasuki masa libur sekolah. Kami sedang mendesain sistem pemberian makanan saat liburan, dan selama ini kami tetap berupaya menyalurkan makanan bergizi meski sekolah tidak aktif," katanya dalam konferensi pers, YouTube Makan Bergizi Gratis, dikutip Senin (23/6).
“Sebetulnya Badan Gizi Nasional sudah melakukan uji coba pada saat libur,”tambahnya.
“Kami tetap memberikan makan bergizi gratis di beberapa daerah, ada yang sekolahnya bersedia mengambil sekolah,”katanya.
Sejauh ini perubahan menu tersebut tak berdampak pada kelompok lain, di antarnya seperti ibu hamil dan menyusui.
“Mereka tetap mendapatkan MBG sesuai standar yang telah ditetapkan,” imbuhnya.
Isu perubahan makan bergizi gratis (MBG) ini berawal dari media sosial yakni mengenai pemberian makanan mentah berupa beras. Kemudian menjadi viral di media sosial soal postingan pemberian menu MBG berupa bahan mentah untuk 5 hari sekaligus di SD Negeri wilayah Tangerang Selatan (Tangsel).
Dalam postingan tersebut terlihat ada lima buah jeruk, pisang, kacang, beras hingga telur puyuh.
Saat ini malah justru mengalami perubahan dari mentah menjadi camilan biskuit dan roti.
“MBG dikasih bahan mentah aja udah salah karena intinya kan bukan itu, Jadinya kaya bansos sembako,”imbuh akun X @ry4nn_.
“Kenapa BGN sekarang malah dapat snack? Telor, roti, susu clebo sama gabin, a***r,”ucap akun X @senasha.
(dec/spt)





























