Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, dari sisi harga, inflasi liburan tidak bersifat linier dan tergantung pada tujuan negara. “Misalnya Jepang, walau tiket pesawatnya relatif stabil, nilai tukar yen yang sedang melemah membuat destinasi ini menjadi lebih menarik. Makanan dan hotel jadi lebih murah,” jelasnya.

Panorama melihat tren saat ini masih dipengaruhi oleh preferensi masyarakat terhadap destinasi yang hemat namun tetap memberikan pengalaman menarik. Kawasan Asia Tenggara menjadi pilihan utama karena dekat, terjangkau, dan relatif aman dari gejolak harga.

Dengan optimisme terhadap kondisi ekonomi di semester kedua, Sadewa berharap pasar wisata domestik dan regional akan terus menunjukkan pemulihan. “Mudah-mudahan ekonominya juga lebih baik, jadi orang punya ruang lebih untuk lifestyle, liburan, dan leisure,” pungkasnya.

Pilih Tunda Liburan ke Eropa dan Mediterania

Konflik antara Iran dan Israel yang  berlangsung dalam beberapa waktu belakangan membuat wisatawan Indonesia memilih untuk melakukan penundaan perjalanan ke wilayah Mediterania dan juga di Eropa.

“Tamu cukup worry untuk masalah safety. Ada beberapa yang mengambil plan untuk reschedule, ada yang juga postpone lah pokoknya reschedule atau postpone. Tapi tidak akan cancel. Jadi ini untuk tujuan yang Mediterania dan juga Eropa.” kata AB Sadewa melanjutkan.

AB Sadewa mengatakan saat ini penerbangan ke Eropa dan juga Mediterania memiliki porsi sekitar 20% dari pendapatan tur luar negeri yang ada di Panorama. Sementarara sisanya lebih banyak berasal dari pendapatan tur ke negara-negara Asia Timur dan Tenggara.

Meski cukup tertekan dengan konflik yang ada di timur tengah tersebut, Ia menyebut bahwa hal tersebut masih bisa diantisipasi. Terlebih, kebanyakan wisatawan memilih untuk melakukan reschedule perjalanan di akhir tahun, sehingga pendapatan yang berasal dari tur luar negeri tersebut tidaklah hilang.

Pressurenya sekitar 20%an. Tapi itu masih dalam taraf bisa manageable” tegasnya. 

(ell)

No more pages