Logo Bloomberg Technoz

Dia menjelaskan Rusia akan berinvestasi lebih dari US$10 miliar atau sekitar Rp164,8 triliun (asumsi kurs Rp16.490 per dolar AS).

“Kalau tambang sudah jelas berapa investasinya, tetapi kalau di migas ini enggak jelas ya harus kita cek dahulu maunya di mana; di sumur mana. [Hal] yang jelas yang jelas di atas US$10 miliar,” ujarnya.

Bahlil menuturkan pemerintah telah menyerahkan data sumur-sumur migas kepada calon investor Rusia, tetapi komitmen investasinya baru akan diumumkan setelah kunjungan ke Tanah Air pekan ini.

Dia pun optimistis dengan rencana investasi tersebut karena Presiden Prabowo Subianto dianggap memiliki jaringan yang cukup banyak dengan pengusaha minyak di Rusia. 

“Bahwa Presiden Prabowo sebelum menjadi presiden kan juga adalah di dunia usaha dan salah satu  jaringan di bidang energinya kan cukup baik,” tuturnya.

Saat ditanya berapa volume lifting minyak yang potensial dihasilkan sumur-sumur tersebut, Bahlil belum bisa mengelaborasi lebih lanjut. Dia berjanji akan menjelaskan hal itu setelah delegasi investor Rusia datang ke Indonesia pada pekan ini. 

“Saya belum bisa berbicara teknis terlalu mendalam. Begitu setelah rapat dengan tim dari Rusia pada Kamis—Jumat baru saya akan sampaikan,” imbuhnya.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan Rusia bersedia ikut serta dalam proyek hulu migas baru di lepas pantai (offshore) Indonesia.

Selain itu, Putin juga mengatakan Rusia bersedia untuk melakukan modernisasi terhadap infrastruktur untuk mendongkrak produksi minyak dari ladang tua.

"Kami bersedia untuk ikut serta dalam proyek baru di lepas pantai Indonesia dan juga melakukan modernisasi infrastruktur supaya mendongkrak minyak dari ladang tua," ujar Putin dalam keterangannya yang disampaikan secara virtual pekan lalu.

Potensi Sumur

Menurut catatan Kementerian ESDM, hingga saat ini Indonesia memiliki sekitar 40.000 sumur minyak. Akan tetapi hanya 16.000 yang produktif, sementara sisanya merupakan sumur-sumur minyak menganggur (idle well). 

Kementerian ESDM juga melaporkan terdapat sebanyak 504 sumur minyak menganggur atau idle well yang berpotensi untuk dilelang tahun ini dan tahun depan oleh PT Pertamina.

Direktur Pembinaan Hulu Migas Kementerian ESDM Ariana Soemanto mengungkapkan 504 sumur tersebut sebagian besar—atau sebanyak 292 sumur — berada di wilayah Sumatra dan sebagian besar berada di daratan (onshore) atau sebanyak 445 sumur, sementara 59 sumur berada di lepas pantai (offshore).

“Potensi sumur idle untuk kerja sama atau kemitraan, sebagian besar di wilayah Sumatra, di regional,” kata Ariana dalam kegiatan IPA Convex 2025 di ICE BSD, Kamis (22/5/2025).

Ariana memerinci, sumur onshore yang akan dilelang tersebar di Aceh, Jambi, dan Bengkulu sebanyak 107 sumur; Sumatra Selatan 185 sumur; Jawa Barat 47 sumur; Jawa Timur bagian utara 16 sumur; Kalimantan Timur 79 sumur; Kalimantan Utara 5 sumur; dan Nabire, Papua 6 sumur.

Sementara itu, 59 sumur offshore yakni sebanyak 8 sumur di lepas pantai Sumatra bagian Selatan; 7 sumur di bagian lepas pantai Pulau Jawa; 8 sumur lepas pantai bagian Kalimantan Timur ; dan 36 sumur bagian lepas pantai Kalimantan Timur.

Selain melelang 504 sumur tersebut,  lelang juga akan dibuka sebanyak 800 sumur untuk 2027 dan 1.200 sumur untuk 2028.

Ariana menyampaikan secara total, terdapat  4.200 sumur berasal dari wilayah kerja (WK) garapan Pertamina, sementara sekitar 300 sumur berasal dari portofolio kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) swasta.

"Ada 1.700 sumur yang akan dikerjakan sendiri oleh Pertamina, kemudian ada 2.500 sumur idle yang akan dikerjakan oleh Pertamina dengan kontrak kerja sama," ujarnya.

Kementerian ESDM memperkirakan potensi tambahan produksi siap jual atau lifting minyak dari reaktivasi sekitar 4.200 sumur tidak beroperasi ini mencapai 12.000 barel per hari (bph) dalam kurun 1 tahun.

“Ada sekitar 500 sumur yang akan dilelang Pertamina dalam tahun ini sampai tahun depan,” ujar Ariana.

(mfd/wdh)

No more pages