Di pasar spot, pelemahan rupiah menjadi yang terdalam urutan lima setelah won, baht, peso dan ringgit. Semua mata uang Asia terjebak zona merah seiring dengan kenaikan indeks dolar AS menyentuh lagi level 99,07 siang ini.
Risiko harga minyak
Kemerosotan rupiah sepenanggungan dengan tekanan jual yang membesar di pasar saham maupun surat utang domestik hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah kehilangan 1,81% nilainya menjebol level 6.781 jelang berakhirnya sesi pertama perdagangan.
Di pasar surat utang RI, imbal hasil merangkak naik di hampir semua tenor. Yield 10Y sudah naik 4,5 bps menyentuh 6,809%. Sedangkan tenor 5Y bahkan naik 5,7 bps di 6,470%.
Arus modal asing sejak pekan lalu sudah terus keluar dari pasar saham maupun surat utang. Asing mencetak net sell Rp4,6 triliun di saham pada pekan lalu.
Sedangkan di pasar SUN, asing membukukan net sell lebih dari Rp13 triliun dalam tiga hari perdagangan saja sampai data 18 Juni, salah satunya akibat sentimen yang memburuk di lanskap geopolitik global pasca serangan Israel pada Iran, 13 Juni lalu.
Salah satu faktor terbesar mengapa aset-aset pasar keuangan RI kian ditinggalkan ketika ketegangan di Timur Tengah memuncak adalah peningkatan risiko dari lonjakan harga minyak dunia.
Pada perdagangan pagi ini, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) dibuka melompat 5,63% di level US$78 per barel.
Sedangkan minyak mentah jenis Brent naik 4,26% menyentuh US$80 per barel.
Dengan demikian, harga minyak sudah naik 17% sejak serangan Israel ke Iran pada 13 Juni lalu, diperkirakan bisa menembus level ekstrem di US$130 per barel bila Iran sampai menutup Selat Hormuz, menurut perkiraan Bloomberg Economics.
Kenaikan harga minyak dunia bila berlanjut akan menambah tekanan defisit neraca perdagangan Indonesia karena peningkatan biaya impor energi.
Harga minyak yang tinggi ditambah pelemahan rupiah bisa menaikkan beban fiskal secara signifikan.
Sebagai informasi, asumsi APBN untuk harga minyak ICP (Indonesian Crude Price) adalah US$ 82 per barel.
Setiap kenaikan US$ 1 di atas asumsi APBN melahirkan tambahan beban neto sekitar Rp7 triliun, sehingga defisit anggaran berpotensi melebar lebih dekat ke batas atas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Di tengah tren penerimaan negara yang terus menurun akibat lesunya ekonomi domestik yang menekan penerimaan pajak, tambahan beban pengeluaran akan menjadi hal sangat buruk bagi kesehatan fiskal Indonesia.
Analis dari MUFG Michael Wan mengatakan, seharusnya rupiah tidak terlalu terdampak dari lonjakan harga minyak dunia bila dibandingkan dengan mata uang negara tetangga.
Indonesia memang tercatat sebagai net oil importer akan tetapi lonjakan harga minyak juga akan mengerek harga komoditas ekspor utama negeri ini seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara dan logam lain. Posisi perdagangan komoditas RI mencakup 2% dari PDB.
"Kami berpendapat bahwa kenaikan harga komoditas secara umum akan membawa kenaikan juga pada harga CPO dan batu bara yang akan memberikan dampak positif pada rupiah," kata Wan, seperti dilansir dari Bloomberg News.
(rui)



























