Pertama, melakukan pembalasan terukur dan terarah pada aset-aset AS, yang menunjukkan Iran telah menanggapi tanpa memicu reaksi militer AS lebih kerah. Itu mirip dengan apa yang terjadi setelah AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani pada awal 2020. Dua belah pihak setelah itu bisa bernegosiasi menuju deeskalasi.
Kedua, pembalasan substansial yang menargetkan personel dan aset AS di kawasan Timur Tengah, fasilitas energi di Teluk dan bahkan mungkin langkah yang belum terjadi sebelumnya yakni menutup Selat Hormuz menggunakan ranjau bawah laut atau menganggu kapal-kapal yang melewatinya.
Iran dinilai akan berhati-hati untuk tidak memicu eskalasi lebih besar dalam perang yang mereka tahu akan sulit mereka menangkan, menurut tim ekonom Bloomberg Economics di antaranya Ziad Daoud, Dina Esfandiary, Tom Orlik dan Jennifer Welch dalam catatannya yang dilansir kemarin.
Harga minyak dunia telah naik dari kisaran US$70 per barel saat Israel pertama menyerang Iran, ke level US$77 pada Jumat seiring perhitungan pasar akan dampak konflik terhadap pasokan.
“Dalam skenario ekstrem di mana Selat Hormuz ditutup, harga minyak mentah bisa melonjak melampaui US$130 per barel. Itu akan membebani pertumbuhan global dan mendorong inflasi lebih tinggi. Inflasi AS bisa menyentuh 4%,” kata tim ekonom Bloomberg Economics.
Bagi The Fed, bank sentral AS, dan bank sentral lainnya, kekhawatiran akan ekspektasi inflasi yang tak terkendali akan menyulitkan mengatasi guncangan tersebut sehingga akan cenderung mendorong sikap menunda pemangkasan suku bunga ke depan.
“Iran kalah dalam kapasitas militer dengan Israel, apalagi dengan AS. Namun, dengan populasi mendekati 90 juta jiwa, PDB mendekati US$450 miliar dan amunisi signifikan, Iran adalah musuh tangguh bagi Israel dan AS. Selain itu, penduduk Israel juga tidak terbiasa dengan perang yang melelahkan,” jelas ekonom.
Lonjakan harga minyak dunia akan jadi kabar buruk bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Kenaikan harga minyak akan menaikkan beban subsidi energi yang makin memberatkan kekuatan keuangan negara.
Dalam APBN 2025, asumsi harga minyak ditetapkan sebesar US$82 per barel. Alhasil, bila harga minyak sampai melompat lebih dari batas itu, dipastikan akan terjadi pembengkakan pengeluaran negara untuk subsidi energi yang dapat melebarkan defisit fiskal.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Deni Surjantoro sebelumnya mengatakan kondisi itu bisa terjadi bila perang antara Iran dan Israel terjadi berlarut-larut dan menyebabkan lonjakan harga minyak dunia secara signifikan.
"Dampak terhadap perekonomian Indonesia sebagai negara dengan sistem ekonomi terbuka, akan sangat bergantung pada seberapa panjang dan luas eskalasi konflik ini berlangsung," ujar Deni kepada Bloomberg Technoz, dikutip Senin (16/6/2025).
"Pemerintah, melalui Kemenkeu, terus memantau berbagai perkembangan situasi geopolitik global, termasuk ketegangan antara Iran dan Israel," ujarnya.
(rui)





























