Investor global kini bersiap menghadapi gejolak pasar dan potensi peralihan ke aset-aset aman atau safe haven, usai Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan ke fasilitas nuklir Iran—langkah yang meningkatkan eskalasi konflik kawasan.
Keputusan Trump yang diambil tanpa persetujuan Kongres AS mengejutkan pasar, mengingat sebelumnya dia sempat menyatakan butuh dua pekan untuk memutuskan.
Pelaku pasar kini menanti respons dari Iran, termasuk apakah negara tersebut akan menutup Selat Hormuz—jalur krusial bagi ekspor minyak dan gas dunia—atau melancarkan serangan terhadap aset-aset AS di kawasan.
“Dalam jangka pendek, pasar seperti minyak mentah akan sangat bergantung pada apakah Iran membalas dan memperluas perang sehingga mengganggu pasokan energi, atau justru mundur dan memberikan konsesi terkait program nuklirnya,” kata Hasnain Malik, analis strategi di Tellimer, Dubai.
“Risiko terbesar bagi kawasan ini adalah jika rezim Iran runtuh dan negara itu terjerumus ke dalam perang saudara seperti di Suriah. Intervensi AS justru bisa meningkatkan kemungkinan tersebut,” tambahnya.
Iran menegaskan akan memberikan balasan atas serangan tersebut, dan menyatakan mempertahankan semua opsi untuk melindungi kedaulatannya.
Sejumlah pejabat dan pengamat berspekulasi soal bentuk respons Iran: mulai dari kemungkinan menyerang pangkalan militer AS di kawasan, hingga menarget fasilitas riset nuklir Israel di Dimona, atau meningkatkan program nuklirnya sendiri.
Dalam dua pekan terakhir, sebagian investor mencoba mencari celah optimisme dengan asumsi konflik tidak akan melibatkan langsung AS dan tetap bersifat regional. Namun, harapan itu kini pupus.
Trump pun belum memberikan sinyal bahwa serangan telah berakhir. Dia bahkan mengancam akan menggunakan kekuatan lebih besar jika Iran membalas.
(bbn)





























