Bagaimanapun, Tri tidak khawatir jika benar Tsingshan melakukan penyetopan sementara produksi baja nirkaratnya di Indonesia. Manuver tersebut diyakininya tidak akan berpengaruh pada progres hilirisasi nikel di dalam negeri.
“Sudah sebelum penyetopan itu kan sekarang dari harga [nikel] sudah cukup bagus, bahkan [pasar] dari sisi ore-nya cukup oke lah. Jadi enggak ada pengaruhnya,” kata Tri.
Sementara itu, saat dimintai konfirmasi, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta akan mendalami kabar pemangkasan produksi oleh Tsingshan tersebut. "Kami coba untuk menelusuri dahulu ya," ujarnya.
Dampak Umum
Dari perspektif pakar, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar mengatakan jika memang Tsingshan melakukan penyetopan produksi baja nirkarat di Indonesia, dampaknya akan terasa pada industri nikel secara umum.
Salah satu risikonya, menurut Bisman, adalah serapan bijih nikel yang tidak akan optimal di sisi hulu. Pada akhirnya, risiko tersebut akan membuat pasokan nikel melimpah sehingga harga berpotensi makin terkoreksi.
“Potensi penyetopan produksi total tidak akan terjadi, tetapi pengurangan produksi dan operasional sangat mungkin terjadi,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (3/6/2025).
Kejatuhan harga dan permintaan nikel ditengarai menjadi penyebab raksasa baja nirkarat China tersebut menghentikan sementara sejumlah lini produksinya di Indonesia sejak awal Mei.
Ketua Badan Kejuruan (BK) Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Rizal Kasli mengatakan keputusan Tsingshan menghentikan sementara operasi pabrik baja nirkaratnya di Tanah Air murni merupakan strategi bertahan korporasi di tengah tekanan harga nikel.
“Ini cuma karena masalah ekonomi. Harga nikel jatuh. Dia rugi, mungkin dia stop,” ujarnya ditemui di sela agenda ESG Forum 2025, Senin (2/6/2026).
Nikel dilego di harga US$15.537/ton hari ini di London Metal Exchange (LME), menguat 1,97% dari penutupan hari sebelumnya.
Harga nikel sepanjang tahun lalu menyentuh rekor terendah dalam empat tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.
Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terpelanting 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.
Di sisi lain, Rizal mengatakan, smelter nikel di Tanah Air—termasuk milik Tsingshan — masih mendatangkan sebagian bijihnya dari luar negeri lantaran suplai dari dalam negeri tidak bisa mengimbangi tingginya permintaan dari industri pengolahan.
“Ya karena [bijih nikelnya] banyak di luar negeri. Karena harga murah, dia tidak bisa mengimbangi dengan biaya operasionalnya, ya dia tutup. Dia suspend, berhenti [operasi] dahulu,” terang Rizal.
Pengurangan produksi pada smelter nikel sekelas Tsingshan, menurut Rizal, akan berpengaruh pada banyak hal, termasuk kemungkinan efisiensi dengan merumahkan karyawannya.
“Bisa PHK [pemutusan hubungan kerja], macam-macam lah. Kalau dia kerja, beban operasional perusahaan makin tinggi, karena harus bayar gaji, bayar lembur, bayar tunjangan, dan sebagainya.”
Selain itu, penyetopan sementara operasional Tsingshan juga akan berdampak pada penurunan serapan bijih nikel yang ditambang di dalam negeri.
Per Bloomberg, Tsingshan dilaporkan telah menghentikan sementara sejumlah lini produksinya di kawasan IMIP sejak awal Mei guna menjaga harga baja nirkarat di tengah tren pelemahan permintaan dan ketidakpastian perdagangan global akibat perang tarif AS-China.
Informasi itu disampaikan sumber yang mengetahui situasi tersebut, tetapi enggan disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara ke publik.
Adapun, lini produksi yang dihentikan kini masuk masa perawatan, tanpa kejelasan kapan akan kembali beroperasi. Akibatnya, salah satu pabrik penggilingan di kawasan tersebut juga ikut berhenti beroperasi.
Tsingshan belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi Bloomberg.
Di Indonesia, Tsingshan memiliki unit bisnis PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS), di mana Tsingshan Holding Group Company Ltd menggenggam saham 50% dan Ruipu Technology Group Company Ltd sebesar 20%.
Kemudian, masing-masing 10% dimiliki oleh Tsingtuo Group Co Ltd dan Hanwa Company Ltd, dan investor asal Indonesia, yaitu PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Dalam operasinya, PT ITSS merupakan pemegang IUI yang diterbitkan oleh Kemenperin sejak 2019, dan mendapatkan izin operasi hingga 2049.
Selain ITSS, Tshingsap Group juga memiliki perusahaan lain yakni PT Sulawesi Mining Investment Indonesia, PT Guangqing Nickel Corporations Indonesia, PT Indonesia Ruipu Nichrome, PT Tsingshan Steel Indonesia dan PT Dein Baja Indonesia.
Secara keseluruhan, Tsingshan Group di Kawasan Industri Morowali ini juga mampu menghasilkan baja nirkarat hingga 3 juta ton, nickel pig iron (NPI) 2 juta ton, dan baja karbon 3,5 juta ton per tahun.
Menurut data Macquarie Group Ltd, Tsingshan menyumbang hampir sepertiga dari total produksi baja nirkarat global pada 2024. Investasi Tsingshan di Morowali memang dirancang untuk memanfaatkan posisi strategis Indonesia sebagai penguasa pasar nikel dunia.
Dalam catatan Macquarie pada April, China dan Indonesia menyumbang 71% dari total produksi baja nirkarat dunia.
Namun, perlambatan ekonomi China menekan permintaan domestik, sementara ekspor dari kedua negara kini menghadapi tekanan dari kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.
(wdh)































