"Kami berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, mitra usaha, dan masyarakat di sekitar wilayah operasi kami,” kata Wade.
Sebelum ditugaskan di Indonesia, Wade menjabat sebagai penasihat senior Komite Eksekutif ExxonMobil di Houston, Texas.
Sepanjang kariernya di ExxonMobil, dia telah menduduki berbagai posisi strategis di Amerika Serikat, Guinea Khatulistiwa, Uni Emirat Arab, Papua Nugini, dan Irak.
Wade memiliki rekam jejak dalam memimpin bisnis dan proyek berskala besar melalui pendekatan yang terstruktur serta kemampuan dalam memberdayakan tim yang beragam untuk mencapai hasil terbaik.
Penunjukan ini menegaskan komitmen ExxonMobil Indonesia untuk terus menjadi mitra terpercaya dalam mendukung ketahanan energi dan pertumbuhan berkelanjutan di Indonesia.
Dalam perkembangan lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menuturkan Indonesia akan turut mengandalkan tambahan produksi siap jual atau lifting minyak dari ExxonMobil pada Juli—Agustus untuk mencapai target tahunan sebanyak 605.000 barel per hari (bph) dalam APBN 2025.
Menurut Bahlil, Exxon yang beroperasi di Blok Cepu telah menjanjikan komitmen peningkatan lifting minyak sebanyak 30.000 bph dalam 2—3 bulan mendatang.
“Perlu kami laporkan juga, yang sudah ada komitmen Juli—Agustus itu Exxon. Lifting Exxon selama ini 155.000 bph dari total [nasional sebanyak] 600.000 bph; 60% dari Pertamina, selebihnya dari KKKS termasuk Exxon,” kata Bahlil di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam pembukaan 49th IPA Convex di ICE BSD, Rabu (21/5/2025).
“Juli—Agustus nambah 30.000 bph, jadi bisa 185.000—190.000 bph. Ini pelan-pelan kita tarik,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Bahlil memaparkan kondisi lifting minyak Indonesia saat ini berbanding terbalik dengan masa puncak kejayaannya pada 1996—1997.
Saat itu, kata Bahlil, Indonesia bisa mencatatkan lifting sekitar 1,5—1,6 juta bph dengan konsumsi domestik hanya 500.000 bph. Bahkan, 40% pendapatan negara diperoleh dari sektor migas.
Per 2024, lifting minyak hanya tinggal 580.000 bph di tengah konsumsi yang naik menjadi 1,6 juta bph. Setiap tahunnya, Indonesia menghabisakan US$35 miliar—US$40 miliar untuk mengimpor minyak.
“Atas dasar itu, Presiden telah mencanangkan untuk bagaimana caranya agar lifting kita naikkan dan harus mencapai 900.000—1 juta bph pada 2029–2030,” kata Bahlil.
Terlebih, lanjutnya, Indonesia memiliki potensi migas dari 128 cekungan, tetapi sebanayk 68 di antaranya belum digarap.
(mfd/naw)




























