Pelemahan indeks dolar AS juga memberi energi penguatan pada mata uang di luar dolar. Di pasar offshore, rupiah NDF menguat 0,37% pada penutupan bursa New York dini hari tadi. Pagi ini, rupiah bergerak di kisaran Rp16.371/US$.
Level tersebut lebih kuat dibanding posisi penutupan rupiah spot kemarin di Rp16.395/US$, mengisyaratkan peluang penguatan rupiah terbuka hari ini.
Di pasar Asia pada Kamis pagi ini, sebagian besar valuta menang melawan dolar AS. Baht memimpin penguatan bersama ringgit, yen serta dolar Hong Kong dan yuan offshore. Sementara won dan dolar Singapura masih melemah pagi ini.
Namun, rupiah mungkin masih perlu mewaspadai bila terjadi aksi profit taking di bursa saham pagi ini setelah indeks sudah melesat 20% dari level terendah April lalu. Arus keluar modal asing dari saham bila kembali terjadi akan memberikan tekanan pada suplai dolar AS di pasar.
Kemarin saat BI rate dipangkas, asing masuk belanja saham domestik senilai US$ 58,8 juta, sekitar Rp960,35 miliar.
Ada juga risiko dari pembalikan dana asing di pasar surat utang terutama karena selisih imbal hasil yang makin menyempit antara Surat Utang Negara dengan US Treasury, yang kini tinggal 220 basis poin.
Sampai data terakhir 20 Mei, pemodal asing telah membukukan belanja di pasar SUN senilai US$ 728,7 juta month-to-date. Angka itu sekitar Rp11,94 triliun dengan kurs dolar saat ini.
Analisis teknikal
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi menguat setelah kemarin kemarin berhasil menembus level resistance potensial yang mencerminkan soliditas di tren penguatan. Level resistance berikut rupiah ada di Rp16.350/US$ yang merupakan resistance pertama dengan target penguatan kedua akan melaju ke Rp16.300/US$.
Apabila kembali break kedua titik tersebut, rupiah berpotensi menguat lanjutan menuju level Rp16.250/US$ hingga Rp16.200/US$ sebagai resistance paling potensial.
Apabila nilai rupiah mengalami tekanan pelemahan hari ini, support patut dicermati pada level Rp16.410/US$ dan Rp16.450/US$. Dengan target pelemahan akan tertahan MA-50 di Rp16.560/US$.
Respons pasar positif
Keputusan Bank Indonesia memangkas bunga acuan kemarin sesuai ekspektasi pasar disambut dengan aksi beli yang membesar di pasar saham dan surat utang domestik. Rupiah pun berhasil ditutup menguat kemarin.
Dalam paparannya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengisyaratkan masih akan ada peluang pemangkasan bunga acuan lagi ke depan seiring dengan langkah BI terus mencari ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan yang akomodatif.
Langkah BI mengeluarkan kebijakan penurunan rasio likuiditas perbankan serta mengerek rasio pendanaan luar negeri mulai 1 Juni nanti, akan memberi dukungan pada bank agar lebih giat menggelontorkan kredit ke sektor riil sehingga laju ekonomi bisa lebih kuat.
Rasio pendanaan luar negeri perbankan dinaikkan jadi 35% dari modal efektif. Sedangkan rasio penyangga likuiditas makroprudensial dipangkas 100 bps jadi 4% untuk perbankan konvensional dan 2,5% untuk perbankan syariah.
Kebijakan itu ditujukan agar perbankan memiliki fleksibilitas lebih besar dalam pengelolaan likuiditas sekaligus meningkatkan sumber pendanaan perbankan dari luar negeri.
(rui)






























