Logo Bloomberg Technoz

Di pasar Asia pagi ini, mayoritas mata uang diperdagangkan melemah terhadap dolar AS. Baht jadi yang terdalam pelemahannya. Tekanan yang dialami mata uang Asia pagi ini sepertinya adalah karena sentimen Tiongkok. 

Data ekonomi China yang dilansir kemarin menunjukkan produksi industri negeri itu berekspansi lebih cepat ketimbang perkiraan pada April. Namun, penjualan ritel tercatat lebih rendah.

Data itu melemahkan yuan offshore. Sebagai salah satu mata uang jangkar di Asia, pelemahan yuan memberi efek ke mata uang lain.

Secara teknikal, rupiah berpotensi melanjutkan tren penguatan di zona hijau, menuju area Rp16.410/US$, lalu tembus resistance potensial sampai dengan Rp16.400/US$. Level resistance berikut perlu dicermati di Rp16.380/US$.

Sementara trendline sebelumnya pada time frame daily menjadi support psikologis potensial pada level Rp16.450/US$. Kemudian, target pelemahan lanjutan untuk kembali ke level Rp16.500/US$.

Selama rupiah bertengger di atas Rp16.400/US$ usai keberhasilan menguat, maka masih ada potensi untuk lanjut menguat hingga Rp16.300/US$.

Sebaliknya apabila terjadi pelemahan di Rp16.500/US$ dalam tren jangka menengah (Mid-term), maka rupiah berpotensi terus melemah dan uji support hingga Rp16.600/US$

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Selasa 20 Mei 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

BI rate mungkin dipangkas

Hasil konsensus yang dirangkum oleh Bloomberg dari 32 institusi menghasilkan median 5,50% untuk BI rate yang akan diumumkan pada Rabu esok.

Itu berarti, pasar memperkirakan Perry Warjiyo dan kolega akan memangkas bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 5,50% setelah tiga bulan beruntun ditahan di level 5,75%. 

Bila ekspektasi pasar itu terpenuhi, pemangkasan BI rate pada pertemuan Mei akan menjadi yang kedua tahun ini setelah pada Januari lalu bunga acuan secara tak terduga digunting oleh Bank Indonesia, di luar perkiraan pasar.

Hari ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani dijadwalkan untuk memaparkan dan menyerahkan draf Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 di rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengatakan KEM-PPKF menjadi titik awal dari pembahasan awal APBN 2026. Setelah disampaikan di rapat paripurna, maka KEM-PPKF akan dibahas di Badan Anggaran DPR.

Kemudian, asumsi makro ekonomi akan dibahas di Komisi XI yang membidangi keuangan, perencanaan pembangunan nasional, moneter dan sektor jasa keuangan serta Komisi XII DPR yang membidangi energi dan sumber daya mineral (ESDM).

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan tema besar dari KEM-PPKF 2026 adalah program prioritas Presiden Prabowo sesuai dengan Asta Cita.

Tema utama dari KEM-PPKF 2026 di antaranya adalah kebijakan struktural yang memperkuat potensi pertumbuhan ekonomi dan menurunkan tingkat incremental capital output ratio (ICOR).

"Kita siapkan dan sampaikan ke DPR pada 20 Mei. Tentunya arahan untuk terjadinya kebijakan struktural yang memperkuat potensi pertumbuhan ekonomi dan menurunkan ICOR menjadi sorotan utama dalam KEM-PPKF," ujar Febrio

(rui)

No more pages