Kondisi ini, lanjut Faisal, bertolak belakang dengan logika bisnis. Jika harga produk menjadi terlalu mahal, pasar akan kesulitan menyerapnya, dan itu membuat skema relokasi pabrik tidak rasional dari sisi profitabilitas.
Dengan posisi Indonesia sebagai pasar besar iPhone di Asia Tenggara, dampak kebijakan relokasi pabrik ke AS akan terasa. Harga iPhone yang sudah tinggi bisa melambung lebih jauh, mempersempit jangkauan masyarakat membeli produk Apple secara langsung.
"Permasalahannya ketika harganya naik, apakah bisa diserap oleh pasar? Nah, sementara keputusan-keputusan bisnis itu kan lebih rasional ya, lebih mempertimbangkan aspek profitability-nya," ujar Faisal.
"Lalu, kalau kemudian membangun di Amerika, yang harganya jauh lebih mahal dan lebih susah untuk bisa diterima oleh pasar, ya jelas bagi ukuran pebisnis kan jadi rugi, dan nggak ada pebisnis yang ingin menjalankan bisnis dengan merugi. Jadi itu menurut saya yang jadi besar masalahnya untuk hambatannya [membangun pabrik iPhone] di Amerika," jelasnya.
Sebagaimana diketahui, Trump bersikeras agar Apple "pulang kampung" meskipun perusahaan teknologi itu sudah berkomitmen investasi besar-besaran di AS. Apple sebelumnya mengumumkan rencana untuk menggelontorkan US$500 miliar selama lima tahun guna mendukung manufaktur dan rantai pasok di dalam negeri.
Namun bagi Trump, itu belum cukup. Ia ingin produksi iPhone benar-benar 100% dilakukan di AS, bukan hanya sebagian komponen atau proses akhir.
Ambisi Donald Trump memulangkan pabrik iPhone ke AS mungkin terdengar nasionalistik, tetapi kenyataan globalisasi rantai pasok tidak semudah itu untuk dikembalikan.
Biaya produksi tinggi, tenaga ahli yang terbatas, dan risiko kehilangan pasar adalah tantangan nyata yang akan dihadapi Apple dan dampaknya akan terasa di kantong konsumen dunia.
(prc/wep)































