Baht nilainya anjlok 0,72%, bersama ringgit yang juga tergerus 0,53%. Dolar Taiwan dan peso juga melemah 0,35% dan 0,29%. Serta dolar Hong Kong juga melemah tipis 0,05%.
Tak semua mata uang Asia kalah oleh dolar AS. Rupee hari ini melejit nilainya, memimpin penguatan di Asia dengan kenaikan 0,58%. Yen juga menguat 0,38%, bersama yuan Tiongkok dan yuan offshore masing-masing naik 0,16%, serta dolar Singapura dan won Korsel yang menguat 0,13% dan 0,09%.
Akan halnya rupiah, hari ini belum diperdagangkan di pasar spot karena bursa modal masih libur cuti bersama peringatan Hari Waisak. Meski begitu, rupiah forward (NDF) masih diperdagangkan di pasar mancanegara.
Mengacu data realtime Bloomberg, rupiah NDF ditutup melemah 0,8% di bursa New York dini hari tadi.
Rupiah forward sempat menyentuh level Rp16.723/US$ sebagai level terlemah sejak kemarin. Jelang pembukaan bursa Eropa, rupiah NDF kini bergerak menguat di kisaran Rp16.639/US$.
Pelaku pasar masih diliputi euforia 'berakhirnya' perang dagang menyusul tercapai kesepakatan besar antara AS dan China. Masing-masing pihak sepakat mengurangi besar tarif yang dikenakan sebelumnya sebesar 115%.
Alhasil, tarif AS ke China yang semula ditetapkan sebesar 145% berkurang menjadi 30%. Sementara tarif China ke AS sebesar 125%, kini diturunkan jadi 10%. Kesepakatan tarif baru itu diberlakukan hingga 90 hari.
Hanya saja, belakangan kekhawatiran kembali merebak karena kendati besar tarif dua negara itu dipangkas, pasar meyakini dampak terhadap perekonomian global masih akan besar.
"Gambaran besar masih kompleks. Ketidakpastian saat ini bukan lagi perihal tarif yang akan dipangkas tapi tentang bagaimana level tarif itu akan menghantam pendapatan juga momentum ekonomi, terutama menuju kuartal tiga nanti," kata Charu Chanana, Chief Investment Strategist di Saxo Markets, di Singapura, dilansir dari Bloomberg News.
Prospek bunga The Fed
Pergerakan harga aset-aset di pasar keuangan global bukan hanya disetir oleh perkembangan ketegangan perang dagang yang mereda drastis.
Pasar juga kini kian mengempiskan harapan akan pemangkasan bunga acuan Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, pada tahun ini menjadi hanya dua kali saja dari ekspektasi semula sebanyak tiga kali.
Instrumen swap yang melacak ekspektasi terhadap hasil FOMC The Fed, menunjukkan ekspektasi penurunan suku bunga sebesar 56 basis poin hingga Desember, turun dari hampir 75 basis poin pada pekan lalu.
Meski begitu, pasar masih memperkirakan pemangkasan pertama sebesar seperempat poin akan terjadi pada bulan September.
Kenaikan imbal hasil ini, ditambah dengan berkurangnya keyakinan terhadap pemangkasan suku bunga, menunjukkan melemahnya posisi investor yang sebelumnya bersikap bullish terhadap obligasi.
Pemangkasan tarif yang diumumkan dinilai akan menguatkan perekonomian, sehingga investor beralih ke aset berisiko yang mencatat reli tajam di awal pekan, mengurangi daya tarik obligasi pemerintah AS.
Imbal hasil obligasi AS bertenor dua tahun, US Treasury, yang sensitif terhadap arah kebijakan moneter, naik hingga 12 bps pada perdagangan Senin hingga menyentuh 4%. Hal itu mencerminkan koreksi ekspektasi pasar terhadap jalur penurunan suku bunga tahun depan.
Jelang pembukaan pasar Eropa, yield UST bergerak turun lagi di Asia. Seperti ditunjukkan data Bloomberg, yield UST-2Y turun 2,1 bps jadi 3,990%. Sedangkan tenor 10Y turun 1,6 bps jadi 4,455%.
(rui)



























