Logo Bloomberg Technoz

Dalam seminggu ini, harga emas dunia sudah terpangkas 2,89% secara point-to-point.

Damai dagang antara AS dan China membuat pelaku pasar bersuka cita. Setelah perundingan di Swiss akhir pekan lalu, AS sepakat untuk menurunkan tarif bea masuk impor dari China dari 145% menjadi 30%. Kemudian China juga akan memotong tarif bea masuk impor dari Negeri Paman Sam dari 125% ke 10%.

Tarif baru ini akan berlaku selama 90 hari ke depan dan akan ditinjau kembali.

Saat 2 kekuatan ekonomi terbesar di dunia sudah mencapai kesepakatan, maka ada harapan arus perdagangan global bisa lebih semarak. Akibatnya, ada harapan pertumbuhan ekonomi bisa lebih terakselerasi dan risiko resesi bisa dihindari.

“Tidak ada yang menduga tarif terhadap China akan serendah ini. Ini adalah kejutan besar yang positif,” kata Jeff Buchbinder dari LPL Financial, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Emas adalah aset yang dipandang aan (safe haven asset). Saat situasi lebih tenang, maka investor biasanya lebih memilih aset-aset yang berisiko, misalnya saham.

Dini hari tadi waktu Indonesia, bursa saham New York ditutup di jalur hijau. Indeks S&P 500 ‘terbang’ 3,26% ke level tertinggi dalam lebih dari 2 bulan. Sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan Nasdaq Composite (IXIC) melonjak masing-masing 2,81% dan 4,35%.

“Penurunan tarif yang lebih besar dari perkiraan, walau temporer, dan berlanjutnya diskusi AS-China adalah sesuatu yang dinanti pasar saham,” tambah Carol Schleif dari BMO Private Wealth, juga diberitakan Bloomberg News.

(aji/wep)

No more pages