Dalam kesempatan yang sama, dia mengatakan, pada dasarnya Indonesia adalah negara dengan orientasi ekonomi domestik, di mana ekspor hanya mewakili sekitar 22% terhadap produk domestik bruto (PDB). Ekspor Indonesia ke AS mewakili 9,9% total ekspor, atau hanya mempengaruhi 2,2% terhadap PDB.
"Situasi itu membuat Indonesia relatif resilient (tahan) terhadap dampak langsung dari perang dagang. Namun, dampak tidak langsungnya cukup signifikan ke sisi moneter dan patut diantisipasi," kata Wijayanto.
Seperti diketahui, pemerintah AS menetapkan tarif resiprokal sebesar 32% kepada Indonesia. Dalam perkembangannya, pemerintah Indonesia memilih jalan negosiasi dengan Negeri Paman Sam. Salah satu poin negosiasinya ialah Indonesia siap memperluas impor gandum dan produk hortikultura dari AS, yang selama ini jadi ekspor andalan Negeri Paman Sam.
(lav)





























