Namun, makin banyak perusahaan yang mencari strategi lain tanpa melibatkan lagi dolar AS di dalamnya. Alias, langsung membeli mata uang lain dengan mata uang lokalnya.
Upaya mengesampingkan dolar AS dalam transaksi internasional, memperpanjang indikasi berbaliknya para pelaku usaha global dan juga para investor dari mata uang yang menikmati dominasi selama bertahun-tahun itu.
Sinyal Warren Buffett
Dalam pernyataan di acara annual meeting Berkshire Hathaway, investor legendaris Warren Buffett melontarkan sinyal tak biasa soal mata uang. Pidatonya kala itu, yang juga menjadi pidato terakhir mengantar masa pensiunnya, menyoroti tentang urgensi memiliki valuta lain di luar dolar AS.
"Mungkin ada hal-hal yang akan terjadi di AS yang akan membuat kita memiliki banyak mata uang lain," kata Warren Buffett.
Pernyataan itu dinilai sangat tidak biasa dan tidak khas Warren Buffett di mana perusahaan investasi yang ia pimpin saat ini memiliki timbunan dana tunai sebesar US$350 miliar.
Ada dugaan Warren Buffett mulai menandai risiko ke depan yang melibatkan penurunan kepercayaan terhadap kondisi moneter AS ke depan juga stabilitas politik. Juga, kemungkinan pembacaannya atas perkembangan terkini dari apa yang dikenal sebagai dedolarisasi.
Dolar AS Makin Ditinggalkan
Sepanjang tahun ini, dolar AS mencatat pelemahan di hampir banyak valuta. Di Asia, the greenback ditinggalkan hingga kalah oleh hampir semua mata uang di kawasan terkecuali terhadap rupiah Indonesia.
Di antara negara G-10, kurs dolar AS kalah telak dipimpin oleh krona Swedia yang sudah menguat 13,65% year-to-date. Di Amerika Latin juga narasinya serupa di mana real Brazil sudah melesat 9,08% sepanjang tahun ini, memimpin kemenangan atas dolar AS.
Di kawasan Timur Tengah, dolar AS juga kalah pamor. Dirham Maroko memimpin penguatan hingga melonjak nilainya 9,3% year-to-date terhadap dolar AS.
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan the greenback terhadap enam mata uang utama dunia, sudah ambles hingga 10,6% dari puncak tertingginya tahun ini, terjerembab menyentuh 98,27 pada akhir bulan lalu.
Stephen Jen, Ahli Strategi yang dikenal dengan temuan teori "Senyum Dolar AS", memperingatkan, ada potensi longsor besar-besaran penjualan dolar AS senilai US$ 2,5 triliun yang dapat melemparkan daya tarik mata uang tersebut ke level rendah dalam jangka panjang.
Pekan ini, indeks dolar AS mungkin masih stabil dengan membukukan kenaikan sempit 0,6%, sebagian karena sentimen jangka pendek seputar perkembangan negosiasi dagang.
Akan tetapi, perubahan struktural dalam cara pemanfaatan dolar AS, serta oleh siapa mata uang itu digunakan, menunjukkan tren dedolarisasi dalam jangka panjang.
"Peningkatan transaksi antara mata uang non dolar AS sebagian besar disebabkan oleh perkembangan teknologi dan peningkatan likuiditas. Pihak-pihak yang bertransaksi merasa bahwa harganya mungkin tidak lebih buruk ketimbang memakai dolar AS, sehingga secara alami transaksi jadi meningkat," kata Gene Ma, Head of China Research di Institute of International Finance.
Laporan Bloomberg mengungkap, berdasarkan penuturan sumber anonim dari berbagai perusahaan dan lembaga keuangan di seluruh Asia, menceritakan tentang tren penghindaran dolar AS dalam transaksi.
Lembaga keuangan di Eropa dan tempat lain juga semakin gencar menawarkan derivatif yuan yang memangkas peran dolar AS, menurut narasumber di perusahaan perdagangan komoditas di Singapura.
Hubungan komersial yang lebih erat antara Tiongkok, Indonesia juga Timur Tengah, memicu permintaan untuk lindung nilai nondolar, kata beberapa sumber.
Produsen mobil di Eropa juga meningkatkan permintaan lindung nilai euro-yuan. Di Indonesia, sebuah bank asing telah membentuk tim khusus tahun ini untuk memenuhi kenaikan permintaan dari klien lokal, guna memfasilitasi transaksi rupiah-yuan.
Pergeseran bertahap dari dolar AS mengikis salah satu fondasi perdagangan global. Selama beberapa dekade, dolar AS telah ada di mana-mana dalam segala hal dari pembiayaan utang di emerging market hingga penyelesaian perdagangan.
Pemakaian dolar AS sebagai mata uang perantara dalam perdagangan internasional menyumbang 13% dari volume transaksi harian.
Penggunaan dolar AS terancam bahkan sebelum kisruh kebijakan dagang AS di bawah Presiden Donald Trump yang sulit diprediksi, memaksa adanya pemikiran ulang yang radikal tentang kedudukan dolar AS di dunia internasional.
Yuan Naik
Selama bertahun-tahun sebelumnya, Tiongkok telah berupaya menaikkan pemakaian yuan dalam urusan dagang dengan berbagai negara melalui penandatanganan bilateral swap dengan Brasil, Indonesia dan banyak negara lain.
Aliansi BRICS juga telah beberapa kali membahas dedolarisasi. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 juga telah memicu minat banyak negara beralih dari dolar AS, setelah sanksi AS pada Rusia menuai tanya tentang apakah mata uang itu dijadikan senjata.
Yang pasti, hanya sedikit kalangan yang meragukan bahwa tren mengesampingkan dolar AS akan terjadi cepat. Soalnya, sejauh ini belum ada kandidat pengganti dolar AS yang mampu memenuhi syarat.
Pemakaian euro, misalnya, dalam transaksi global, tercatat turun dalam dua tahun terakhir. Sedangkan pemakaian yuan Tiongkok juga masih menjadi hal yang baru.
Di antara itu, upaya China terlihat menonjol menaikkan pamor mata uangnya. Yuan kini digunakan sekitar 4,1% dalam transaksi global menurut data yang dilansir oleh Swift, perusahaan global payment.
Angka itu memang masih jauh dibanding pemakaian dolar AS dalam transaksi internasional yang mencapai 49%. Namun, pemakaian yuan melalui sistem yang dibangun oleh Tiongkok sendiri, juga berkembang pesat.
Volume tahunan transaksi memakai yuan melalui sistem pembayaran antarbank lintas batas, telah mencapai 175 triliun yuan atau sekitar US$ 24 triliun pada 2024, lebih dari 40% pertumbuhan tahunan menurut data yang dilansir oleh Tiongkok.
Investor dari China, juga perusahaan trading memakai yuan dalam persentase rekor untuk transaksi lintas batas pada Maret lalu. Eksportir dari Tiongkok juga mempercepat penukaran dolar AS ke yuan, berbalik dari tren sebelumnya di mana eksportir cenderung menimbun dolar mereka karena khawatir pelemahan yuan.
Data Bloomberg mencatat, nilai ekspor China ke Asia Tenggara telah tumbuh lebih dari 80% dalam lima tahun terakhir sampai data Maret lalu. Sedangkan ekspor ke Uni Emirat Arab dan Arab Saudi tumbuh dua kali lipat lebih. Lajunya melampaui pertumbuhan ekspor Tiongkok ke AS maupun Uni Eropa.
Biaya lindung nilai yuan mungkin sering lebih mahal ketimbang lindung nilai dalam dolar AS, akan tetapi tingkat bunga yang rendah dalam pinjaman yuan bisa memberikan total biaya yang masih menarik bagi para peminjam.
"Anda bisa mendanai dengan sepertiga dana lebih murah ketimbang memakai dolar AS. Meski yuan memang punya batas karena likuiditasnya di pasar offshore tidak banyak," kata Alicia Garcia Herrero, Chief Economist Natixis untuk Asia Pasifik.
Biaya lindung nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia telah meningkat dalam setahun terakhir dan makin melonjak jelang Pemilu AS November lalu serta pada April lalu.
Perubahan nilai dolar AS terkait tarif meunjukkan bahwa bukan hanya Tiongkok dan negara-negara ekonomi besar lain yang menggerogoti posisi dolar AS di dunia.
Trump telah mengirim sinyal yang bervariasi tentang dolar AS tapi ia mengeluhkan kekuatan mata uang tersebut dan memberikan jabatan pada Stephen Miran, seorang ekonom yang telah menulis tentang perombakan radikal tatanan dunia berbasis dolar AS.
Pendekatan Trump terhadap kebijakan dagang, kesediaannya yang terang-terangan ingin membuang praktik lama juga kritik berulangnya pada Federal Reserve, semua memberi kesan bahwa peran dominan dolar AS dalam ekonomi global saat ini tengah menghadapi ancaman terbesar dalam beberapa dekade.
"Mengingat daya tahan dolar AS yang luar biasa, tampaknya diperlukan perubahan besar dalam lingkungan internasional untuk menggantikannya. Namun, ada risiko yang semakin besar bahwa pergeseran itu sedang terjadi," kata Oliver Harvey, analis Deutsche Bank.
(rui/roy)































