Kegagalan rupiah membukukan penguatan juga terjadi ketika indeks saham bergeming dari data buruk pertumbuhan PDB.
IHSG makin mempercepat reli pada sesi kedua perdagangan hingga menapaki penguatan 0,9% ke level 6.874.
Rupiah sepertinya juga terseret oleh tekanan jual yang melanda pasar surat utang negara. Sejak pagi tadi, harga surat utang cenderung melemah, tercermin dari kenaikan tingkat imbal hasil alias yield, mengekor tekanan jual yang juga melanda pasar obligasi global.
Sesuai data OTC Bloomberg, sore ini, yield 2Y mengikis kenaikan tinggal 0,3 bps di level 6,425%. Sementara tenor 5Y masih naik 1 bps di 6,628% dan tenor 10Y mulai terpangkas 0,6 bps menjadi 6,870%.
BI rate perlu turun
Data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang lebih buruk ketimbang prediksi itu menjadi alarm nyaring tentang ancaman pelemahan ekonomi domestik yang bisa makin dalam bila tidak diintervensi.
Di tengah pelemahan ekonomi dunia akibat guncangan perdagangan global menyusul kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, Indonesia perlu 'menyelamatkan' mesin utama pertumbuhannya yakni konsumsi domestik, ketika pertumbuhan investasi dan perdagangan kemungkinan akan terdampak paling besar oleh 'badai tarif'.
Bank Indonesia perlu melonggarkan kebijakan agar menjadi sinyal bagi pelaku usaha supaya tidak terus menerus menahan ekspansi. Bunga acuan yang lebih rendah juga akan memberi kepercayaan lebih besar bagi para konsumen untuk melanjutkan belanja.
Apabila pemangkasan BI rate terus ditunda, pelemahan ekonomi akan semakin dalam selain juga bisa memantik kebingungan di pasar, menurut ekonom.
"Kami memandang dengan kondisi saat ini ada perlambatan ekonomi, inflasi rendah dan rupiah sudah menguat, ruang penurunan BI rate bulan ini sangat terbuka," kata Chief Economist Trimegah Securities Fakhrul Fulvian yang memprediksi akan ada pemangkasan 25 basis poin pada pertemuan Dewan Gubernur BI bulan ini.
Konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama pertumbuhan, hanya tumbuh 4,89% padahal ada perayaan Ramadan dan Idulfitri yang biasanya mendongkrak konsumsi masyarakat. Angka itu juga masih di bawah rata-rata laju konsumsi selama 10 tahun sebelum pandemi yang mencapai lebih dari 5%.
Sementara investasi cuma naik 2,12%, jauh melorot dibanding kuartal sebelumnya dengan pertumbuhan 5,03%. Sementara ekspor juga melambat dengan pertumbuhan 6,78%.
Yang perlu diingat, situasi yang terburuk sebenarnya belum terjadi di mana kebijakan tarif resiprokal juga masih ditunda sampai awal Juli. Pada separuh kedua tahun ini ekonomi dunia akan menghadapi tarif AS lebih besar. Dampak terhadap Indonesia juga akan makin besar.
"Prospek pertumbuhan yang jauh lebih lemah ketika inflasi sudah jinak, kemungkinan akan mendorong BI memangkas bunga acuan 25 bps bulan ini, terlebih bila rupiah bisa mempertahankan penguatannya seperti terlihat belakangan," kata Tamara.
Dengan capaian yang buruk di awal tahun ini, Bloomberg Economics menilai ada potensi PDB Indonesia tahun ini akan tumbuh di bawah 4,9%. Terkecuali AS secara tiba-tiba mengubah kebijakannya terkait tarif, momentum pelemahan ekonomi diperkirakan akan berlangsung lebih lama.
(rui)































