Logo Bloomberg Technoz

Adapun di pasar kripto, Bitcoin dan mata uang digital lain juga terimbas gelombang yang sama. Bitcoin pekan lalu ambles 4,51% dan kini tertahan di kisaran US$ 77.206, mencerminkan pelemahan 8% sepanjang pekan ini. Sementara Ethereum bahkan sudah ambrol nilainya hingga 19,2% dan kini tunduk di level US$ 1.496.

Gejolak harga berbagai aset investasi itu terpicu oleh panasnya perang dagang yang disulut oleh Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump.

'Serangan' Trump dengan menerapkan tarif universal 10% terhadap semua barang impor yang masuk ke AS, ditambah tarif resiprokal ke puluhan negara, membuat pasar ketakutan akan dampak buruknya ke perekonomian global.

Yang terbaru, Tiongkok bahkan diganjar tarif hingga 104% karena Negeri Panda itu membalas tarif AS dengan angka sama persis yang dikenakan pada mereka oleh Trump. Tanggal ini juga menjadi tanggal resmi pemberlakuan tarif Trump tersebut dan pasar makin liar bergerak.

Di tengah situasi yang penuh volatilitas dan mengayun harga-harga aset begitu liar, di mana kemerosotan yang sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir telah menjebak para investor dalam kerugian tak kecil, di mana 'tempat berlindung' yang aman?

Valuta 'safe haven'

Para investor global memilih yen, mata uang Negeri Sakura Jepang, sebagai aset aman alias safe haven saat ini. Sejak 'bom tarif' Trump dijatuhkan pada 2 April, yen sudah menguat hingga 3,51% sampai saat ini. Sepanjang tahun, penguatan yen telah mencapai 8,5% terhadap dolar AS.

Yen bersama krona, mata uang Swedia juga franc Swiss, keluar sebagai aset pilihan para investor global yang mencari tempat 'parkir' aset dengan stabilitas lebih baik dan potensial memberi cuan. Krona sudah menguat 11,21% year-to-date dan franc menguat 7,66% pada periode yang sama.

Investor menyerbu valuta franc Swiss, yen Jepang dan krona Swedia sebagai aset safe haven (Riset Bloomberg Technoz)

Investor global juga sempat memburu US Treasury, surat utang AS, sebagai safe haven. Emas juga jadi buruan pada pekan lalu hingga menyentuh level rekor tertinggi dalam sejarah.

Meski setelah itu, investor hengkang dari dua aset tersebut. Yield Treasury terbang hingga saat ini menyentuh 4,2% untuk tenor 10 tahun. Sementara emas diduga banyak dicairkan (profit taking) oleh investor untuk menutup kerugian di aset lain. 

Bila investor global banyak berburu valuta safe haven sebagai aset aman, bagaimana dengan para pemodal lokal?

Ada beberapa aset yang bisa ditimbang di tengah fluktuasi pasar yang masih tajam serta ketidakpastian yang masih tinggi.

Bila mengekor langkah investor legendaris Warren Buffet, satu-satunya orang dari jajaran 10 orang terkaya di dunia yang masih tumbuh kekayaannya ketika orang tajir lainnya merugi ratusan triliun, memegang aset kas atau setara kas adalah pilihan bijak.

Namun, aset kas atau dana tunai di sini jangan dibayangkan harfiah sebagai uang tunai kertas di bawah bantal. Aset kas yang dimaksud, termasuk surat berharga tenor pendek di bawah setahun, atau sertifikat deposito, juga dalam valuta asing.

Berikut ini beberapa pilihan aset yang bisa ditimbang menurut Certified Financial Planner dari Divisi Riset Bloomberg Technoz:

SBN

Bagi para investor lokal, lonjakan imbal hasil SUN atau Surat Berharga Negara (SBN) saat ini sejatinya menjadi waktu yang tepat untuk mengunci yield beli yang tinggi. SUN tenor pendek 1Y misalnya, saat ini yield-nya sudah di level 6,928%. 

Tingkat imbal hasil SUN makin menarik di tengah volatilitas pasar (Riset Bloomberg Technoz)

Sedangkan SUN tenor menengah 5Y saat ini ada di 6,948%, seperti ditunjukkan oleh data OTC Bloomberg. SUN tenor 10Y malah sudah di 7,158%. 

Atau, bila belum terbiasa masuk langsung ke instrumen SUN seri FR atau PBS, investor bisa mencoba masuk ke SBN ritel, seri Sukuk Tabungan, yang saat ini masih ditawarkan di agen-agen penjual. 

Sukuk Tabungan seri ST014-T2 bertenor 2 tahun, memberikan kupon tetap 6,5% per tahun. Sedang tenor lebih panjang, ST014-T4 memberikan imbalan 6,6% per tahun.

Emas

Bagaimana dengan emas? Usai memecahkan rekor baru pada Kamis pekan lalu, harga emas memang berangsur turun tersengat profit taking. Namun, emas tak pernah benar-benar keluar dari daftar safe haven di kala situasi ketidakpastian meningkat seperti saat ini.

Apalagi potensi resesi diyakini makin besar melanda perekonomian AS, akibat kebijakan tarif tersebut. Resesi AS berarti membawa ekonomi dunia bisa ikut jatuh ke bawah. Pada saat yang sama, ancaman tarif juga memicu kenaikan inflasi. 

Harga emas dibanding harga Bitcoin dan yield Treasury (Riset Bloomberg Technoz)

Emas berpotensi untuk melanjutkan rekor baru ke depan, terlebih bila arus jual di pasar saham tak jua berhenti, seperti diperkirakan oleh analisis terbaru Bloomberg Intelligence. Harga emas bisa menyentuh US$ 4.000 per troy ounce bila indeks S&P 500 tertekan sampai 30%.

Adapun emas lokal seperti emas Antam, mencatat pertumbuhan harga 17,3% sepanjang tahun. Namun, potensi untung yang bisa dikantongi oleh investor mengacu pada harga buyback-nya. Harga buyback emas Antam hari ini dibanderol di Rp1.627.000 per gram. Alhasil, lebih tepat bila menyebut return emas Antam sampai hari ini mencapai 7,4% year-to-date.

Valas

Pilihan berikut yang bisa ditimbang adalah valas alias valuta asing. Pilihannya bukan cuma dolar AS. Rupiah sejauh ini telah melemah terhadap hampir semua mata uang di dunia.

Bila terhadap dolar AS, rupiah sudah melemah 4,54% year-to-date, maka terhadap mata uang poundsterling, rupiah bahkan telah melemah sampai 6,7%.

Nilai rupiah merosot terhadap hampir semua mata uang di dunia (Riset Bloomberg Technoz)

Terhadap euro, rupiah bahkan sudah tergerus sampai 10,6% year-to-date. Sedangkan terhadap yen Jepang, rupiah malah sudah melemah sampai 12%.

Bila investor memiliki tujuan keuangan yang terkait dengan pengeluaran dalam valas, menempatkan dana di valuta asing bisa jadi pilihan menarik. Terutama dengan prospek rupiah ke depan yang sepertinya masih berat.

Yang terpenting, pastikan penempatan aset sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan agar bisa mengelola risiko secara seimbang. Pastikan juga dana darurat sudah aman sehingga risiko volatilitas harga aset tak sampai menggoyahkan keuangan pribadi secara keseluruhan.

Disclaimer:

Segala keputusan pembelian atau penjualan atas sebuah aset yang dilakukan setelah membaca artikel ini, berikut konsekuensinya, menjadi tanggung jawab sepenuhnya pembaca. Bloomberg Technoz tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang mungkin timbul dari keputusan yang diambil setelah pembaca membaca artikel ini.

(rui)

No more pages