“Danantara itu kalau mau dorong hilirisasi bisa bekerja sama juga dengan investor domestik atau [bila] perlu bisa lewat MIND ID [holding BUMN sektor pertambangan PT Mineral Industri Indonesia] yang merupakan bagian dari Danantara misalnya. [MIND ID] bisa melakukan akuisisi saham Gunbuster,” ujarnya.
Bhima memandang dengan mengakuisisi saham mayoritas PT GNI melalui Danantara, program hilirisasi dengan tata kelola lingkungan dan keselamatan pekerja yang baik bisa cepet terwujud.
Di sisi lain, pemerintah dinilai juga bisa menghubungkan PT GNI di tingkat hilirisasi lini tengah, bahkan hingga pabrik baterai seperti PT Indonesia Battery Corporation (IBC)—yang baru berganti nama menjadi New Energy Material Investment Holding — serta pabrik sel baterai kendaraan listrik milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power yang berlokasi di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat.
“Nah jadi rantai pasok domestiknya itu bisa terhubung Danantara mengakuisisi GNI,” tutur Bhima.
PT GNI mengoperasikan proyek smelter pirometalurgi berkapasitas besar senilai US$3 miliar di Morowali Utara, Sulawesi Tengah yang termasuk dalam proyek strategis nasional (PSN) menurut Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian No. 7/2021 tentang Perubahan Daftar Proyek Strategis Nasional.
Smelter Gunbuster di Morowali Utara dikabarkan telah memangkas produksinya dan hampir tutup total hanya beberapa bulan setelah perusahaan induknya, Jiangsu Delong, kolaps akibat gagal bayar utang.
Gunbuster, menurut sumber Bloomberg, diduga menunda pembayaran pada pemasoknya sehingga tidak bisa memperoleh bijih nikel untuk diolah di smelter-nya. Perusahaan disebut telah menutup semua kecuali beberapa dari lebih dari 20 jalur produksinya sejak awal tahun.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengusulkan agar sebagian dana kelolaan Danantara dapat dipakai untuk membiayai investasi hilirisasi di Indonesia. Bahkan, keinginan tersebut telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Kami mengajukan dalam berbagai kesempatan kepada Bapak Presiden agar meminta pertimbangan, untuk sebagian dana Danantara itu bisa diinvestasikan. Dalam rangka memberikan penciptaan nilai tambah di sektor hilirisasi," ucap Bahlil di sela acara Indonesian Economic Summit 2025, Rabu (19/2/2025).
Menurut rencana, Presiden Prabowo Subianto akan meluncurkan Danantara pagi ini. Lembaga tersebut resmi berdiri setelah rapat paripurna DPR pada Selasa (4/2/2025) mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Badan Usaha Milik Negara (RUU BUMN) menjadi undang-undang.
Danantara akan berperan dalam konsolidasi pengelolaan BUMN serta optimalisasi dividen dan investasi.
Dalam forum internasional World Government Summit yang digelar di Dubai, Kamis (13/2/2025), Prabowo memerinci Danantara akan menginvestasikan sumber daya alam (SDA) dan aset negara ke dalam proyek-proyek berkelanjutan dan berdampak tinggi di berbagai sektor seperti energi terbarukan, manufaktur canggih, industri hilir, hingga produksi pangan.
Prabowo mengatakan proyek-proyek tersebut diharapkan akan berkontribusi pada pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%.
(wdh)



























