Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa Gedung Putih sedang menyiapkan tindakan eksekutif untuk membubarkan Departemen Pendidikan. Pejabat pemerintahan Trump menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya memenuhi janji kampanye presiden.
Namun, rencana tersebut diperkirakan akan menghadapi perlawanan dari serikat guru, yang khawatir dana pendidikan akan dialihkan ke sekolah swasta dan charter (sekolah yang beroperasi independen tetapi menerima dana pemerintah) tanpa pengawasan yang sama ketatnya. Serikat guru, yang umumnya mendukung kandidat Partai Demokrat, kemungkinan besar tidak akan mudah diajak bekerja sama dengan pemerintahan Trump.
Membubarkan Departemen Pendidikan bukan tugas mudah. Lembaga ini memiliki tanggung jawab luas, termasuk menyalurkan sekitar US$121 miliar dalam bentuk hibah, pinjaman, dan program kerja bagi hampir 10 juta siswa setiap tahunnya. Selain itu, departemen ini juga mengelola aplikasi bantuan keuangan FAFSA, yang menjadi bagian penting dalam proses penerimaan mahasiswa di berbagai universitas.
Trump telah menunjuk Linda McMahon, mantan CEO World Wrestling Entertainment (WWE) sekaligus mantan kepala Administrasi Bisnis Kecil di periode pertamanya, sebagai pemimpin baru Departemen Pendidikan. Meskipun masih menunggu konfirmasi, McMahon sudah diminta untuk memangkas peran lembaga tersebut sebagai bagian dari upaya Trump mengurangi pengeluaran pemerintah dan jumlah pegawai federal.
"Saya bilang ke Linda: ‘Linda, saya harap kamu melakukan tugasmu dengan baik sampai akhirnya tidak ada lagi pekerjaan untukmu,’" kata Trump.
Dalam beberapa hari terakhir, setidaknya 70 pegawai Departemen Pendidikan dilaporkan telah diberhentikan sementara. Menurut Brittany Holder, juru bicara American Federation of Government Employees, angka tersebut hanya mencakup anggota serikat pekerja, sehingga jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.
Sebagian dari mereka yang diberhentikan merupakan pegawai yang terlibat dalam inisiatif keberagaman, kesetaraan, dan inklusi—yang menjadi target pemangkasan oleh pemerintahan Trump. Saat ini, Departemen Pendidikan memiliki sekitar 4.200 pegawai.
"Kami sedang mengevaluasi tenaga kerja untuk memastikan pendidikan yang berfokus pada hasil belajar siswa, bukan ideologi yang memecah belah," ujar Madison Biedermann, juru bicara Departemen Pendidikan, dalam sebuah pernyataan.
Meskipun konservatif telah lama mendorong penghapusan Departemen Pendidikan, upaya tersebut selalu mendapat tentangan dari anggota parlemen. Namun, dengan terpilihnya kembali Trump, tekanan untuk mewujudkan kebijakan ini semakin meningkat, terutama setelah berbagai isu pendidikan seperti keringanan utang mahasiswa di era Biden serta perdebatan tentang pengajaran ras, gender, dan seksualitas menjadi perdebatan politik yang panas.
(bbn)
































