Logo Bloomberg Technoz

Dalam rencana jangka panjang ke-14 dan Tujuan Visi 2035,  China mengusulkan bahwa peradaban teknologi nuklir dan pengembangan isotop nuklir multiguna merupakan tren pembangunan di masa depan.

“Hal ini menandai bahwa China telah mencapai inovasi disruptif di dua bidang teknologi tinggi, yaitu baterai energi atom dan semikonduktor, sehingga menjadikannya jauh lebih maju” dibandingkan lembaga dan perusahaan penelitian ilmiah Eropa dan Amerika,” tulis perusahaan.

Zhang Wei menjelaskan jika kebijakan mengizinkan, baterai energi atom memungkinkan ponsel tidak pernah diisi dayanya, dan drone yang hanya dapat terbang selama 15 menit dapat terbang terus menerus.

Baterai Listrik Tenaga Nuklir dari Betavolt. (Dok: Perusahaan)

Betavolt telah merilis prototipe baterai nuklir atau energi atom pada 8 Januari silam. Dalam satu baterai ukuran koin memiliki 63 isotop nuklir. Ini merupakan pengembagan semikonduktor generasi ke-4.

Baterai ini diklaim akan mampu memasok berbagai kebutuhan, termasuk peralatan Artificial Intelligence (AI) dalam jangka panjang. Hal lain yang dapat didukung, dari skenario Betavolt adalah kebutuhan energi ruang angkasa, peralatan medis, mikroprosesor, sensor canggih, drone kecil, hingga robot mikro. Baterai mampu bekerja dalam keadaan suhu antara -60C sampai 120C. 

Baterai Betavolt  diklaim juga tidak memiliki radiasi eksternal dan cocok untuk digunakan pada berbagai alat medis. “Baterai energi atom yang dikembangkan oleh Betavolt benar-benar aman, tidak memiliki radiasi eksternal, dan cocok untuk digunakan pada perangkat medis seperti alat pacu jantung, jantung buatan, dan koklea dalam tubuh manusia,” kata perusahaan tersebut.

Untuk mencegahnya mudah terbakar dan meledak akibat guncangan, terdapat lapisan yang didesain khusus.

(wep)

No more pages