Logo Bloomberg Technoz

Menurut Arya, keberlanjutan usaha para alumni diharapkan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Selain memperkuat sektor ekonomi kreatif, perkembangan startup juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Dia menegaskan Pertamina ingin menjadikan Pertamuda sebagai ekosistem yang menghubungkan inovasi anak muda dengan kebutuhan industri dan akses investasi. Dengan pendekatan tersebut, ide bisnis yang dikembangkan mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada tahap kompetisi, tetapi dapat tumbuh menjadi usaha yang memiliki daya saing.

“Kepada seluruh finalis, saya ingin menegaskan bahwa kalian bukan hanya peserta kompetisi, tetapi bagian dari generasi inovator untuk masa depan Indonesia. Pertamina berkomitmen terus mendorong Pertamuda sebagai ekosistem yang mempertemukan inovasi, industri, dan investasi, sehingga semakin banyak gagasan anak bangsa tumbuh menjadi bisnis berdaya saing dan memberikan dampak nyata,” tambahnya.

Tracer Study Ungkap Keberlanjutan Startup Alumni

Gambaran mengenai keberlanjutan bisnis alumni juga terlihat dari hasil tracer study yang dilakukan Pertamina terhadap para peserta program periode 2021 hingga 2025.

VP Stakeholder Relations & Management PT Pertamina (Persero) Rifky Rakhman Yusuf menyampaikan, pemantauan dilakukan terhadap 179 startup finalis unik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 61 startup memiliki data yang dapat dianalisis secara mendalam.

Hasilnya, 55 startup atau sekitar 90,16 persen masih aktif menjalankan usaha maupun telah melakukan perubahan model bisnis atau pivot. Temuan ini memperlihatkan bahwa sebagian besar startup yang masuk dalam program Pertamuda mampu mempertahankan aktivitas bisnis di tengah dinamika pasar.

Rifky menilai keberhasilan Pertamuda tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pemenang yang memperoleh penghargaan. Pengalaman, pengetahuan, jejaring bisnis, dan kemampuan mengembangkan usaha setelah kompetisi menjadi bagian penting dari hasil pembinaan.

“Malam ini kita memberikan penghargaan kepada sembilan pemenang. Saya mengucapkan selamat untuk para pemenang. Namun sejatinya, kesuksesan Pertamuda tidak diukur dari piala malam ini saja, melainkan dari ilmu yang diperoleh, jaringan yang terjalin, dan bisnis yang terus tumbuh setelah program ini,” ujar Rifky.

Dia menambahkan, perkembangan program tersebut memperlihatkan perluasan peran Pertamina dalam mendukung kewirausahaan dan inovasi nasional. Perusahaan tidak hanya menjalankan aktivitas bisnis di sektor energi, tetapi juga berupaya menjadi penggerak pengembangan startup.

“Pertamuda memperkuat peran Pertamina bukan hanya sebagai perusahaan energi, tetapi juga sebagai Innovation Engine & Startup Enabler dalam mendorong kewirausahaan dan inovasi Indonesia,” jelas Rifky.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan Pertamuda Seed and Scale merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong lahirnya wirausaha muda yang inovatif dan tangguh.

Menurut Baron, rangkaian pembinaan dalam program tersebut dirancang agar peserta dapat menguji kelayakan model bisnis sekaligus memperoleh masukan dari pelaku industri. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk membangun jejaring dan menjajaki potensi kerja sama dengan mitra bisnis.

"Berbagai rangkaian kegiatan di bootcamp memberikan kesempatan kepada peserta untuk menguji model bisnis, memperoleh masukan dari pelaku industri, serta menjajaki peluang kerja sama dan pendanaan. Akses terhadap investor menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan startup, terutama bagi founder muda yang sedang membangun bisnis," jelas Baron.

Selain pendampingan, Pertamina juga menyediakan peluang dana pembinaan senilai ratusan juta rupiah, akses permodalan, serta dukungan pengembangan bisnis secara berkelanjutan. Fasilitas tersebut diharapkan membantu peserta mengembangkan inovasi menjadi produk maupun layanan yang memiliki prospek komersial.

Sembilan Inovator Muda Raih Penghargaan

Pertamuda Seed and Scale 2026 mencatat 4.445 pendaftar yang berasal dari 764 perguruan tinggi di Indonesia dan dua perguruan tinggi luar negeri. Tingginya jumlah pendaftar memperlihatkan minat mahasiswa dan inovator muda untuk mengembangkan gagasan bisnis melalui kompetisi kewirausahaan.

Dari ribuan pendaftar tersebut, proses seleksi dilakukan secara bertahap hingga menghasilkan sembilan pemenang atau tiga terbaik dari masing-masing kategori.

Tahapan kompetisi dimulai dengan kurasi untuk memilih 100 peserta terbaik. Para peserta kemudian mengikuti sesi Elevator Pitch untuk menentukan 60 kandidat yang berhak melanjutkan ke tahap pembinaan intensif melalui program bootcamp.

Selama pembinaan, peserta memperoleh materi, pendampingan, serta evaluasi untuk memperkuat kesiapan bisnis. Proses tersebut kemudian menghasilkan 15 finalis yang berkesempatan mempresentasikan inovasi mereka dalam babak Final Pitch di hadapan dewan juri profesional.

Penilaian dilakukan oleh lima juri dari berbagai latar belakang, yakni Mohamad Roby Hervindo selaku Manager CSR Pertamina, Ahmad Azhar selaku VP Technology Commercial & Implementation Pertamina, Edric Chandra dari APINDO, Andrea Varriale selaku Director Startup Grind Indonesia, serta Michelle Kamau dari Fowler GSIC University of San Diego.

Sembilan pemenang ditetapkan dalam tiga kategori kompetisi. Pada kategori Early-Stage Startup, posisi pertama diraih Robotku School yang dikembangkan Deltakristiano Kurniaputra dari Universitas Indonesia.

Posisi kedua ditempati Apros besutan Raditia Damar Prasetyo dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, sedangkan posisi ketiga diraih Aigra yang dikembangkan Satriyo Imam Arifin Wahono dari Universitas Negeri Surabaya.

Untuk kategori Energy Founder subkategori Energy Optimization, Popipo yang dikembangkan Yudhistira Pranata Nusa dari Institut Teknologi Bandung menempati posisi pertama. Berikutnya, Spectamate karya Moch. Aufa Dany Damario Sudjono dari Universitas Indonesia berada di posisi kedua.

Sementara itu, posisi ketiga diraih Node Fabless Semiconductor Company yang dikembangkan Ziauddin Dzilmi Yusuf dari Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang.

Adapun kategori Energy Founder subkategori Energy Future menempatkan Zero Pome karya Kayla Kwok dari Universitas Indonesia sebagai pemenang pertama. Aio PestGuard besutan Muhammad Raihan Ghani dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya berada di posisi kedua.

Posisi ketiga kategori tersebut diraih Aquasweep yang dikembangkan Mirrabell Frederica Hadiwijono dari University of Toronto, Kanada.

Salah satu pemenang, Raditia Damar Prasetyo, mengaku tidak menyangka inovasi APROS yang dikembangkannya berhasil masuk tiga besar kategori Early-Stage Startup. Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember tersebut menilai persaingan dalam kompetisi tahun ini cukup ketat karena banyak peserta membawa gagasan bisnis potensial.

“Saya tidak menyangka bisa masuk Top 3 karena banyak peserta lain yang ide bisnisnya juga bagus-bagus. Semua saya pasrahkan kepada Allah SWT. Namun, saya tetap menjaga optimisme karena yakin ide saya mampu diterima dengan baik,” ungkap Damar.

Sementara itu, Ziauddin Dzilmi Yusuf berharap inovasi Node Fabless Semiconductor Company yang dikembangkannya dapat berkontribusi terhadap penguatan industri semikonduktor nasional.

Mahasiswa Ritsumeikan Asia Pacific University tersebut ingin mendorong pengembangan industri cip buatan Indonesia dengan memanfaatkan bahan baku dalam negeri. Inovasi ini juga diharapkan mendukung peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Keberlanjutan Pertamuda Seed and Scale menjadi bagian dari upaya Pertamina mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau TPB poin 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Melalui program tersebut, Pertamina berupaya mempertemukan potensi inovator muda dengan kebutuhan industri, akses pendanaan, serta jaringan bisnis. Dengan tingkat keberlangsungan startup alumni yang mencapai sekitar 90 persen, program ini diharapkan dapat terus mendorong pertumbuhan wirausaha baru sekaligus memperkuat kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional.

(tim)

No more pages