Logo Bloomberg Technoz

Salah satu penerapannya dilakukan melalui open-door policy. Neneng menjelaskan bahwa pendekatan ini dilakukan secara harfiah maupun dalam cara berkomunikasi agar anggota tim merasa aman untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

“Saya selalu mempraktikkan open-door policy, literally and figuratively, agar anggota tim merasa aman, didengar, dan bebas menceritakan kendala, baik urusan profesional maupun personal,” katanya.

Ruang untuk mendengar tersebut bukan berarti keputusan dibuat tanpa pertimbangan. Sebaliknya, Neneng menempatkan critical mindset dan analisis akar masalah sebagai bagian dari proses kepemimpinan.

Pertimbangan jangka panjang serta keselarasan dengan nilai dan visi Grab juga menjadi perhatian. Dalam menghadapi pilihan yang sulit, nilai dan integritas menjadi dasar untuk menentukan arah.“When confronted with tough choices, it's my core values that guide me toward making the right decisions,” ujar Neneng.

Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan pandangan Neneng tentang kepemimpinan perempuan. Ia menyoroti anggapan bahwa perempuan kerap dianggap lemah karena emosional. Namun, menurutnya, empati justru dapat menjadi kekuatan dalam kepemimpinan dan menjadi bagian dari penerapan compassionate leadership. 

Bagi Neneng, keberagaman dalam organisasi, termasuk kepemimpinan perempuan, dapat memperkaya perspektif dan memperkuat proses pengambilan keputusan. Ketika perempuan memperoleh ruang untuk bertumbuh dan berkontribusi, dampaknya dapat dirasakan bukan hanya oleh individu, tetapi juga oleh organisasi dan ekosistem yang lebih luas. 

Di Grab Indonesia, lebih dari 50% pemimpin C-level adalah perempuan. Selain itu, lebih dari 50% pengguna dan Mitra Merchant Grab Indonesia adalah perempuan. Lebih dari 189.000 Mitra Pengemudi perempuan juga memperoleh penghasilan melalui platform Grab.

Semangat inklusivitas juga diterapkan melalui lingkungan kerja dan ekosistem Grab. Di internal perusahaan, terdapat berbagai kebijakan dan inisiatif seperti Safe & Respectable Work, fleksibilitas jam kerja, dukungan terhadap peran pengasuhan, serta Women@Grab yang mendukung pengembangan karier dan pengembangan diri.

Di luar lingkungan internal, pendekatan tersebut juga diterapkan dalam ekosistem mitra. Di bawah kepemimpinan Neneng, Grab Indonesia menawarkan fleksibilitas waktu bagi Mitra Pengemudi, dukungan berupa asuransi dan layanan Grab Support 24/7, serta program coaching, mentorship, dan ruang komunitas bagi Mitra Pengemudi dan Mitra Merchant perempuan.

Menurut Neneng, menjadi pemimpin bukan hanya tentang berada di posisi untuk memberi arahan. Seorang pemimpin juga memiliki tanggung jawab untuk membuka ruang, memahami perspektif, dan membantu orang lain berkembang.

Neneng memandang bahwa memahami orang-orang dalam ekosistem tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan atau data. Kedekatan tersebut juga dibangun melalui percakapan langsung dengan para Mitra Pengemudi.

Hal tersebut tercermin dalam rangkaian kegiatan Ngobrol Asik Seputar Ojol (NGASO) yang digelar Grab Indonesia. NGASO mempertemukan Neneng dengan para Mitra Pengemudi di Yogyakarta, Bandung, dan Makassar.

Dalam pertemuan tersebut, percakapan tidak hanya berkisar pada aktivitas sebagai pengemudi. Para Mitra juga membagikan cerita tentang keluarga, usaha yang mereka bangun, kehilangan pekerjaan, pendidikan anak, serta berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Neneng, percakapan langsung menjadi cara untuk memahami kehidupan dan kebutuhan para Mitra secara lebih utuh. “Grab senantiasa mendengar dan belajar dari pengalaman teman-teman Mitra untuk terus melakukan perbaikan dan memberikan dukungan yang lebih relevan dan tepat sasaran. Suara Mitra benar-benar didengar, bukan hanya dicatat,” ujar Neneng.

Cerita Perempuan di Yogyakarta

Seorang Mitra Pengemudi perempuan Grab berbagi cerita dalam kegiatan NGASO (Ngobrol Asik Seputar Ojol) di Yogyakarta tentang perjuangan menopang keluarga dan membangun kembali masa depan.

Seorang Mitra Pengemudi perempuan Grab berbagi cerita dalam kegiatan NGASO (Ngobrol Asik Seputar Ojol) di Yogyakarta tentang perjuangan menopang keluarga dan membangun kembali masa depan.

Di Yogyakarta, percakapan Neneng dengan para Mitra Pengemudi menghadirkan cerita tentang perempuan yang berusaha menopang keluarga sekaligus membangun kembali kehidupannya.

Siti Musabikhah sebelumnya pernah merintis usaha keripik. Namun, pandemi membuat usaha tersebut bangkrut. Sebagai ibu tunggal, ia kemudian memilih bergabung sebagai Mitra Pengemudi dengan menyewa motor listrik.

Pendapatannya sebagai Mitra digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menyekolahkan anak-anaknya. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari upayanya untuk membangun kembali kehidupan setelah kehilangan usaha yang sebelumnya menjadi sumber pendapatan.

Ada pula Elin Wardani, seorang perantau yang mengambil peran lebih besar setelah suaminya terkena PHK. Elin bergabung sebagai Mitra Pengemudi dengan menggunakan motor listrik sewaan, sambil menabung hingga mampu membeli kendaraan sendiri.

Dengan kendaraan tersebut, Elin dapat menjalankan aktivitas secara lebih mandiri sekaligus memastikan keempat anaknya tetap bersekolah. Anak sulungnya kini telah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Mendengar cerita mereka, terasa jelas bahwa di balik setiap perjuangan perempuan, ada tekad, ketangguhan, dan pilihan untuk terus melangkah,” ujar Neneng.

Menjalankan Pekerjaan dan Membangun Usaha di Bandung

Kegiatan NGASO (Ngobrol Asik Seputar Ojol) di Bandung menjadi salah satu momen pertemuan Neneng Goenadi dengan para Mitra Pengemudi dalam rangkaian kunjungan ke sejumlah kota.

Kegiatan NGASO (Ngobrol Asik Seputar Ojol) di Bandung menjadi salah satu momen pertemuan Neneng Goenadi dengan para Mitra Pengemudi dalam rangkaian kunjungan ke sejumlah kota. 

Di Bandung, cerita yang didengar Neneng memperlihatkan bagaimana pekerjaan sebagai Mitra dapat berjalan berdampingan dengan cita-cita lain.

Agus, misalnya, menceritakan perjalanannya mengembangkan UMKM hingga memiliki bengkel sendiri. Ia menjalankan aktivitas sebagai Mitra Pengemudi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sembari mengembangkan bengkelnya secara bertahap.

Sementara itu, Dewi Sartika berbagi cerita mengenai perjuangannya sebagai ibu tunggal untuk membesarkan dan menyekolahkan anaknya. Ia juga menceritakan bagaimana program GrabScholar membuka kesempatan yang lebih luas bagi pendidikan keluarganya.

Cerita-cerita tersebut memberikan perspektif bagi Neneng dalam melihat bagaimana para Mitra berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membangun peluang untuk masa depan.

“Saya banyak terinspirasi oleh semangat para Mitra dalam memperjuangkan masa depan bagi diri sendiri dan keluarga,” ujar Neneng.

Membangun Kembali Kehidupan di Makassar

NGASO (Ngobrol Asik Seputar Ojol) di Makassar menghadirkan cerita para Mitra Pengemudi tentang ketangguhan, keluarga, dan upaya membangun kembali kehidupan.

NGASO (Ngobrol Asik Seputar Ojol) di Makassar menghadirkan cerita para Mitra Pengemudi tentang ketangguhan, keluarga, dan upaya membangun kembali kehidupan.

Di Makassar, cerita yang muncul berkaitan dengan pengalaman kehilangan pekerjaan dan upaya membangun kembali kehidupan.

Sulaiman bergabung sebagai Mitra setelah terkena PHK. Bersama istri dan anak-anaknya, ia perlahan membangun kembali kehidupannya hingga berhasil memiliki rumah dan melunasi cicilan dua kendaraan.

Eka Prasetya juga memulai perjalanannya sebagai Mitra setelah kehilangan pekerjaan sebagai pengawas kontraktor. Ia menghadapi beban utang dan harus tinggal jauh dari keluarga di Pulau Jawa.

Seiring waktu, Eka membangun usaha salon untuk istrinya. Usaha tersebut kemudian berkembang dan mempekerjakan beberapa orang.

“Selama di Makassar, saya kembali belajar tentang arti pantang menyerah. Semangat untuk terus bangkit begitu terasa dalam obrolan saya bersama teman-teman Mitra Pengemudi,” ujar Neneng.

Dari tiga kota tersebut, cerita yang dibagikan memang berbeda. Ada yang berbicara tentang keluarga, ada yang membangun usaha, dan ada pula yang berusaha bangkit setelah kehilangan pekerjaan.

Namun, bagi Neneng, setiap percakapan memberikan kesempatan untuk memahami konteks kehidupan Mitra secara lebih utuh. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan pembelajaran bagi Grab.

“Grab selalu belajar banyak dari teman-teman Mitra Pengemudi. Setiap cerita yang dibagikan bukan hanya didengar, tetapi benar-benar akan kami jadikan bahan untuk terus berbenah,” ujar Neneng.

Dengan demikian, NGASO tidak hanya menjadi ruang pertemuan antara CEO dan Mitra Pengemudi. Dari Yogyakarta hingga Makassar, percakapan tersebut menjadi cara bagi Neneng untuk melihat kehidupan Mitra dari perspektif yang lebih dekat, sekaligus membawa cerita dari lapangan sebagai bagian dari proses belajar dan memahami kebutuhan mereka.

Pada akhirnya, bagi Neneng, kepemimpinan tidak berhenti pada bagaimana sebuah keputusan dibuat, tetapi juga pada bagaimana seorang pemimpin memahami orang-orang yang terdampak oleh keputusan tersebut.

(tim)

No more pages