Dia hanya menegaskan tahap uji coba ditargetkan pada Desember 2026 dan dilakukan penjualan untuk pasar domestik.
“PT Timah kenapa diambil sebagai pilot project di awal? Kalau enggak salah, itu kita sudah mulai masukin [ke BMKS] Desember ini. Itu bertahap juga, enggak langsung jadi yang akan masuk itu adalah pasar domestik dahulu,” kata Ratih dalam wawancara kepada Bloomberg Technoz di kantor pusat TINS, Jumat (25/9/2026).
Pembentukan Harga
Lebih lanjut, Ratih juga berharap dilakukannya penjualan timah melalui BMKS dapat memperdalam pembentukan harga atau price discovery.
Kendati begitu, dia meyakini hal tersebut bakal terjadi secara bertahap—seiring dengan mulai dibukanya penjualan internasional di BMKS.
“Nah pembentukan harganya nanti akan kita lihat, Icomex itu kan pasti ada initial price, initial price-nya pasti dari bursa lama. Nanti kan kita hitung-hitung semuanya kan, ada premiumnya seperti apa, biayanya seperti apa,” tegas dia.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas BMKS merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK Sarjito mengatakan persiapan pembentukan BMKS—yang rencananya akan dinamai Indonesia Commodity Exchange (Icomex) — telah memasuki sejumlah tahapan penting.
"[Pada] 4 Januari 2027 diharapkan bahwa perdagangan bursa mineral dan komoditas strategis pertama kali progres melalui entitas Icomex," kata Sarjito dalam rapat kerja bersama dengan Komisi XI, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Sarjito mengatakan lembaganya bakal melakukan persiapan terkait dengan peluncuran Icomex itu sepanjang September—November tahun ini. Dia berharap Icomex dapat mulai beroperasi awal 2027.
Dia mengatakan komoditas yang dilibatkan pada perdagangan bursa akan bertahap mengikuti partisipasi pasar nantinya. Adapun, pada tahap awal timah dan feronikel (FeNi) akan menjadi komoditas awal yang diperdagangkan lewat Icomex.
Di sisi lain, perusahaan tambang pelat merah anggota grup MIND ID bakal menjadi peserta awal dari perdagangan komoditas mineral itu lewat Icomex.
"Saat ini timah sudah diperdagangkan di ICDX dan sudah cukup lama, tetapi partisipasinya waktu itu masih terbatas," tuturnya.
Sekadar informasi, OJK resmi mengeluarkan aturan teknis yang turut mengatur mekanisme pembentukan Harga Acuan Indonesia atau IRP di BMKS atau Icomex.
Dalam Peraturan OJK (POJK) No. 16/2026 tentang Penyelenggaraan BMKS, dijelaskan IRP ditetapkan berdasarkan mekanisme pasar dan OJK turut memiliki kewenangan mengubah metodologi pembentukan harga tersebut.
Dijelaskan harga transaksi BMKS terbentuk berdasarkan mekanisme pasar yang berlangsung teratur, wajar, transparan, dan efisien.
Harga transaksi BMKS tersebut dapat digunakan sebagai Harga Acuan Indonesia sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pengelola bursa bakal memiliki kewenangan menyusun metodologi pembentukan IRP berdasarkan transaksi yang berlangsung secara wajar, transparan, dan memiliki integritas.
Metodologi yang disusun tersebut wajib mendapatkan persetujuan OJK. Kemudian, pengelola bursa wajib mengevaluasi berkala metodologi pembentukan Harga Acuan Indonesia.
Dalam aturan tersebut, OJK diberikan kewenangan memerintahkan pengelola bursa menyesuaikan metodologi pembentukan IRP. Hal tersebut diklaim dapat dilakukan untuk menjaga integritas pasar.
“Harga Acuan Indonesia adalah harga Mineral Strategis dan Komoditas Strategis yang dibentuk berdasarkan transaksi BMKS, sesuai metodologi yang ditetapkan Bursa dan disetujui Otoritas Jasa Keuangan,” sebagaimana tertulis dalam POJK No. 16/2026.
Adapun, sepanjang semester I-2026, TINS mencatat laba bersih sebesar Rp2,7 triliun, melonjak 805% secara tahunan. Capaian tersebut telah melampaui target laba bersih dalam RKAP 2026.
Pendapatan perseroan pada periode yang sama mencapai Rp10,4 triliun, tumbuh 147% dibandingkan dengan semester I-2025. Sementara itu, EBITDA mencapai Rp3,9 triliun atau meningkat 363% secara tahunan.
Dari sisi operasional, produksi bijih timah TINS pada semester I-2026 mencapai 12.232 ton, naik 75% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi logam timah mencapai 10.865 ton, tumbuh 58%.
Penjualan logam timah juga meningkat 85% menjadi 10.984 ton, dari 5.933 ton pada semester I-2025.
(azr/wdh)




























