Logo Bloomberg Technoz

Menurut Andri, updraft yang kuat membuat butiran es tetap berada di dalam awan. Sehingga terus membesar melalui proses pembekuan dan tumbukan dengan butiran air.

“Apabila sudah cukup besar dan berat, butiran es tidak lagi mampu ditahan oleh updraft dan mulai jatuh ke permukaan,” ujarnya.

Butiran es masih dapat mencapai permukaan karena ukurannya cukup besar dan jatuh dengan cepat. Kondisi tersebut membuat waktu pencairan selama perjalanan menuju permukaan relatif singkat.

Suhu Medan Turun 6,6 Derajat Celsius

Andri menjelaskan, pertumbuhan awan Cb saat hujan es di Medan turut didukung kondisi atmosfer yang memungkinkan udara hangat dan lembap bergerak naik.

Saat kejadian, pertemuan angin dan perubahan arah angin membantu mendorong udara naik sehingga mendukung pertumbuhan awan Cb.

BMKG juga mencatat suhu di Medan turun dari 32,6 derajat Celsius menjadi sekitar 26 derajat Celsius dalam waktu satu jam. Namun, Andri menegaskan penurunan suhu tersebut tidak serta-merta menjadi pemicu awal terjadinya hujan es.

“Penurunan itu dapat terjadi saat udara dingin dari dalam awan turun bersama hujan, lalu menyebar di dekat permukaan,” jelas dia.

Dengan demikian, perubahan suhu tersebut dapat menjadi tanda bahwa sistem awan konvektif sedang melintas atau berkembang.

Andri menururkan, konvergensi dan belokan angin turut berperan dalam mengumpulkan udara lembap dan mendorongnya naik. Namun, kontribusi masing-masing faktor tidak dapat dinyatakan dalam persentase hanya berdasarkan data yang tersedia.

Hujan Es Masih Berpotensi Terjadi

Menurut Andri, hujan es berkaitan dengan kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan Cb. Fenomena tersebut dapat terjadi pada masa peralihan musim ketika kondisi cuaca cenderung dinamis, tetapi tidak hanya terjadi pada periode tersebut.

Untuk wilayah Sumatra Utara, kondisi atmosfer saat ini didukung pasokan uap air dari perairan yang relatif hangat, kelembapan udara yang tinggi, atmosfer yang labil, serta konvergensi dan belokan angin.

Aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial juga turut mendukung pembentukan awan hujan.

“Berdasarkan analisis BMKG saat ini, potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang masih perlu diwaspadai dalam tiga hari ke depan,” ujar Andri.

Meski demikian, pertumbuhan awan Cb atau hujan lebat tidak selalu menghasilkan hujan es. Hujan es bergantung pada kondisi awan di lokasi dan waktu tertentu.

Masyarakat dapat mewaspadai awan yang tumbuh menjulang dan tampak gelap, perubahan cuaca yang berlangsung cepat, angin yang mendadak menguat atau berubah arah, serta hujan lebat yang disertai kilat dan petir.

“Tanda-tanda tersebut tidak memastikan hujan es akan terjadi, tetapi masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan,” kata Andri.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menghentikan aktivitas di ruang terbuka dan berlindung di bangunan yang kokoh ketika kondisi cuaca memburuk

Masyarakat juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon serta berada di dekat baliho dan tiang. Pengendara disarankan mengurangi kecepatan karena hujan lebat dapat mengurangi jarak pandang.

(mef/wep)

No more pages