Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp11,22 triliun dari sejumlah 29,31 miliar saham yang ditransaksikan, dengan frekuensi menyentuh 1,65 juta kali diperjualbelikan.
Tercatat hanya ada penguatan 188 saham, dan sebanyak–banyaknya 462 saham terjadi pelemahan. Sisanya 144 saham stagnan.
Saham–saham barang baku, saham perindustrian, dan saham properti big caps menjadi pemberat IHSG, dengan masing–masing minus 2,17%, 2,09% dan 1,66%. Adapun saham keuangan, saham konsumen non primer, dan saham infrastruktur juga turut melemah pada penutupan perdagangan hari ini.
Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG hingga top losers:
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengurangi 9,83 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengurangi 7,32 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 6,64 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengurangi 5,92 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengurangi 3,49 poin
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengurangi 2,95 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengurangi 2,78 poin
- PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) mengurangi 2,72 poin
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mengurangi 2,33 poin
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengurangi 2,31 poin
Sejumlah saham unggulan LQ45 lainnya juga menjadi pendorong pelemahan IHSG ialah, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang turun 4,21%, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) ambles 3,81%, dan juga saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melemah 3,68%.
Senada, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) drop 3,59%, saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) melemah 3,55%. Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) terpeleset 3,54% hingga menjadi pemberat IHSG.
Melansir Phillip Sekuritas Indonesia, IHSG melemah senada dengan Bursa Asia yang mengikuti indeks saham utama di Wall Street semalam yang tertekan oleh lonjakan harga minyak mentah dan imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasuries) di tengah kekhawatiran mengenai inflasi.
“Harga minyak mentah kembali menguat, mengakhiri penurunan selama lima hari beruntun setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah kepada AS,” terang Phillip Sekuritas dalam catatan terbarunya, Kamis (24/9/2026).
Harga kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent menembus US$105 per barel sementara harga Futures minyak mentah jenis WTI mencapai US$93,72 per barel.
Yield US Treasury note bertenor 10 tahun lompat 13 bps menjadi 5,11%, level tertinggi sejak bulan Juli 2007 setelah lonjakan harga minyak mentah dan data aktivitas usaha sektor swasta memicu kekhawatiran bahwa Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) perlu melanjutkan kenaikan suku bunga acuan.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, prospek kenaikan biaya energi yang berhadapan dengan perekonomian AS yang masih kuat kemungkinan akan terus menekan pasar obligasi dan saham, seiring investor menilai kembali seberapa jauh The Fed perlu memperketat kebijakan moneternya.
Para trader meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut, sehingga data inflasi dan pasar tenaga kerja yang akan dirilis mendatang amat menjadi perhatian utama.
(fad/wep)































