Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp6,1 triliun dari sejumlah 19,57 miliar saham yang ditransaksikan, dengan frekuensi yang terjadi 962 ribu kali jual–beli.
Tercatat masih ada penguatan 171 saham, dan sebanyak–banyaknya 453 saham terjadi pelemahan. Sisanya 162 saham stagnan.
Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG pada perdagangan siang ini, pelemahan saham BBCA, saham BBRI, hingga saham IMPC. Diperberat lagi oleh saham–saham barang baku, saham perindustrian, dan saham properti melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 1,68%, 1,62% dan juga 1,29%.
Saham big caps menjadi pemberat IHSG hingga menempati top losers:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 6,64 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengurangi 6,55 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengurangi 5,92 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengurangi 4,63 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengurangi 4,39 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengurangi 2,91 poin
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengurangi 2,58 poin
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 2,45 poin
- PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) mengurangi 2,11 poin
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mengurangi 1,63 poin
Menyitir Panin Sekuritas, IHSG pada Sesi I ditutup melemah 1,06% di posisi 6.307,1 dan melanjutkan tren pelemahan dengan pola pullback yang persisten sejak menyentuh level resisten 6.800.
“Kami mencermati lingkup makro eksternal yang relatif belum akomodatif, termasuk repricing pasar terhadap higher for longer suku bunga moneter global yang mendorong penyempitan yield spread aset domestik dan aset benchmark asing,” papar Panin Sekuritas, Kamis (24/9/2026).
Perkembangan geopolitik pun belum menunjukkan perkembangan yang meaningful, termasuk buntunya negosiasi AS-Iran mengenai Selat Hormuz, konflik militer Rusia-Ukraina, serta ketegangan di regional Asia Timur.
Kembalinya lesatan harga minyak di atas level US$100/barel memicu kegelisahan pasar terhadap tekanan inflasi serta aktivitas bisnis AS yang tercatat melonjak dengan laju tercepat sejak 2021, sehingga meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Saat ini, pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali lagi tahun ini.
Kondisi tersebut, tegas Mirae Asset Sekuritas Indonesia, membuat pasar kembali meningkatkan ekspektasi terhadap pengetatan moneter lanjutan. Dengan demikian, market menghadapi kombinasi yang kurang kondusif, yakni minyak yang tinggi meningkatkan risiko inflasi, sedangkan yield obligasi yang tinggi memperketat kondisi finansial.
Terlebih lagi nilai tukar rupiah yang pada perdagangan siang hari ini lanjut melemah turut jadi pemicu IHSG tergelincir di zona merah. Mengacu data Bloomberg, rupiah tengah melemah 0,55% di pasar spot di posisi Rp17.898/US$.
Jika rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, maka support menarik dicermati pada level Rp17.950/US$ dan selanjutnya Rp18.000/US$ secara potensial menahan rupiah.
(fad)





























