Logo Bloomberg Technoz

Kedua negara sedang membahas kemungkinan langkah lebih jauh dengan memangkas bea masuk atas sejumlah barang, termasuk produk energi dan pertanian AS, menjelang KTT para pemimpin kedua negara pekan ini. Langkah tersebut merupakan bagian dari inisiatif sebelumnya untuk mengurangi hambatan impor senilai US$30 miliar dari masing-masing pihak melalui mekanisme Dewan Perdagangan. Tarif most-favored-nation (MFN) akan diberlakukan terhadap sejumlah produk dari China.

Namun, peredaan ketegangan tarif masih jauh dari kepastian. Pemerintah China telah lama mengeluhkan bea masuk AS, sementara Washington meluncurkan penyelidikan terhadap praktik perdagangan negara-negara lain yang dapat memberinya opsi untuk memberlakukan langkah baru terhadap China sebagai pengganti “tarif resiprokal” yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS pada Februari. Jika langkah tersebut diambil, tarif baru dapat dikenakan sebesar 7,5%. AS diperkirakan menunda pengumuman resmi apa pun hingga setelah KTT.

Berbicara kepada Bloomberg Television pada Senin (21/9), Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan China dan AS masih berbeda pandangan mengenai ketentuan perpanjangan gencatan tarif tersebut. Dia mengisyaratkan bahwa periode tiga hingga enam bulan merupakan rentang waktu yang dapat didukung Washington.

Komitmen Pembelian dan Investasi

Jepang dan Korea Selatan telah membuat komitmen investasi besar di AS atau berjanji membeli lebih banyak barang Amerika sebagai cara memenuhi tuntutan Trump terkait perdagangan. Pemerintahan Trump kini menerapkan pendekatan serupa terhadap China.

China terus menunjukkan kemajuan dalam memenuhi komitmen untuk membeli 25 juta ton kedelai AS setiap tahun hingga 2028, dan baru-baru ini melewati separuh target untuk tahun ini. Kemajuan dalam komitmen terpisah untuk membelanjakan sedikitnya US$17 miliar tambahan untuk produk pertanian AS dinilai lebih sulit. Target tersebut “dapat dicapai jika hubungan politik tetap konstruktif dan hambatan tarif terus dikurangi,” kata Kang Wei Cheang, pialang komoditas pertanian di StoneX Group Inc di Singapura.

Pembelian produk AS lainnya berjalan lambat. Impor daging sapi, misalnya, hanya mencapai US$7 juta dalam tujuh bulan pertama tahun ini, sebagian kecil dari US$556 juta pada 2025, menurut Bloomberg Economics. China memperbarui izin impor dari ratusan pabrik pengolahan daging sapi AS pada Mei, tetapi pengiriman hampir tidak pulih karena kenaikan harga di AS dan lemahnya permintaan China menekan pembelian.

Pada Mei, Trump mengatakan China telah berkomitmen membeli 200 pesawat Boeing Co. Greer mengatakan China telah menunjukkan kemajuan dalam memenuhi komitmen tersebut.

Bagian investasi dalam negosiasi masih menghadapi tantangan. Trump memberikan sinyal yang beragam mengenai impor mobil China ke AS. Dia bahkan secara terbuka mempertimbangkan kemungkinan mengizinkan China membangun pabrik otomotif di AS jika perusahaan tersebut mempekerjakan pekerja Amerika. Namun, gagasan tersebut secara politik sangat sensitif di AS. Kesepakatan semacam itu tetap harus memenuhi aturan keamanan nasional agar dapat dilaksanakan, kata seorang pejabat AS.

Kecerdasan Buatan

AS dan China tengah bersaing untuk menjadi pemimpin dalam kecerdasan buatan (AI), dan kedua negara telah mengambil langkah untuk membatasi akses terhadap teknologi masing-masing.

Sejak pertemuan terakhir kedua pemimpin pada Mei, perkembangan pesat di bidang AI membuat pembahasan mengenai teknologi tersebut semakin mendesak sekaligus lebih kontroversial. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa “tidak ada hari setelah hari esok jika China memenangkan” perlombaan AI.

Kinerja model-model AI terdepan China semakin mendekati pesaingnya dari AS, sementara Beijing melihat AI sebagai peluang yang mungkin hanya datang sekali dalam satu generasi untuk mengubah persaingan teknologi dengan Washington agar menguntungkan China. Setelah para pemimpin industri AI AS menyerukan pengembangan AI terdepan yang lebih hati-hati demi keselamatan, Beijing menolak seruan tersebut dan menganggap proposal itu sebagai upaya menebar ketakutan demi kepentingan sendiri.

Produsen cip China berlomba mengembangkan prosesor yang mampu menangani beban kerja AI kompleks setelah kontrol ekspor AS membuat industri AI China semakin sulit mengakses chip tercanggih dari perusahaan AS seperti Nvidia Corp. Pada 22 September, Alibaba Group Holding Ltd meluncurkan apa yang disebutnya sebagai cip AI paling kuat buatan China, sebuah akselerator yang dirancang untuk bersaing dengan Nvidia sekaligus menopang ekspansi besar-besaran kapasitas pusat data dalam beberapa tahun mendatang.

Sumber ketegangan lain muncul tahun ini setelah sejumlah laboratorium AI AS menuduh pengembang China menggunakan keluaran dari model-model tercanggih mereka untuk menghasilkan sistem pesaing dengan biaya yang jauh lebih rendah. Gedung Putih telah mengumumkan langkah-langkah untuk mencegah praktik tersebut, yang dikenal sebagai “adversarial distillation”.

Mineral Kritis

Mineral kritis seperti tanah jarang menjadi isu kontroversial karena bahan tersebut sangat penting untuk memproduksi barang berteknologi tinggi seperti robot, kendaraan listrik, dan senjata berpemandu presisi. China mendominasi produksi mineral tersebut. Kondisi ini memberi Beijing pengaruh yang besar dalam kebuntuan tarif dengan AS tahun lalu, ketika China memberlakukan kontrol ekspor untuk membatasi akses asing terhadap tanah jarang dari China.

Setelah gencatan perdagangan pada Oktober, China kembali mengekspor sebagian produk tersebut. Namun, pemerintahan Trump mengeluhkan bahwa Beijing memperlambat pengiriman, sementara ekspor magnet tanah jarang China ke AS turun bulan lalu. Beijing berharap dapat menawarkan tambahan lisensi ekspor sebagai alat tawar dalam KTT tersebut, menurut sejumlah orang yang mengetahui masalah ini.

Meski Washington berupaya melakukan diversifikasi sumber mineral kritis, AS kemungkinan masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengurangi dominasi China dalam penambangan dan pengolahan tanah jarang, menurut Bloomberg Economics. Beijing telah menerbitkan aturan baru yang bertujuan melawan upaya asing mengalihkan rantai pasok global dari pemasok China serta membatasi akses China terhadap material dan teknologi penting. Pemerintah China juga mulai menerapkan sistem baru izin ekspor yang lebih sederhana melalui lisensi umum. Namun, dampak langkah-langkah tersebut masih belum jelas karena pembeli global menyatakan kekhawatiran bahwa proses persetujuan masih diperlambat.

Perang Iran

Trump berada di bawah tekanan untuk mengakhiri konflik yang telah memicu krisis energi global, sementara China memberikan jalur penyelamat ekonomi bagi Teheran sebagai pembeli minyak terbesar Iran. China juga memberikan dukungan diplomatik kepada Iran di panggung internasional, dan terdapat laporan bahwa militer Iran juga menerima sejumlah bantuan dari China.

Pemerintah Beijing telah memerintahkan perusahaan-perusahaan China untuk menentang sanksi AS yang menargetkan pembelian minyak Iran, dengan menerapkan mekanisme pemblokiran yang diperkenalkan pada 2021 untuk melindungi perusahaan China dari hukum asing yang dianggap tidak beralasan. Kementerian Luar Negeri China berulang kali menyuarakan penolakan terhadap apa yang disebutnya sebagai sanksi ilegal dan sepihak yang berdampak pada perusahaan China, serta mendesak AS untuk menghindari runtuhnya gencatan senjata dengan Iran saat ini, alih-alih “melempar lumpur kepada China”.

Pada Agustus, Bessent mengatakan Washington melancarkan “serangan ekonomi” terhadap hubungan keuangan Iran di seluruh dunia. Ketika ditanya apakah AS siap memutus akses bank-bank besar China karena memfasilitasi perdagangan dengan Iran, dia mengatakan “tidak ada seorang pun yang berada di luar jangkauan sanksi AS”. Pada bulan yang sama, AS menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah entitas China dan Hong Kong terkait dugaan hubungan ekonomi dengan Iran. AS juga menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan China atas pembelian minyak Iran. Beijing merespons dengan mengatakan hubungannya dengan Iran “tidak boleh diganggu atau dirusak” dan China akan melindungi kepentingannya.

Trump diperkirakan akan terus menekan Xi terkait hubungan China dengan negara Timur Tengah tersebut. Xi tampaknya tidak terburu-buru membantu Trump dalam upayanya memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran. Namun, mengabaikan Trump sepenuhnya dapat memicu ketegangan dengan pemimpin AS tersebut.

Taiwan

Taiwan tetap menjadi salah satu isu paling sensitif dan berpotensi memicu ketegangan dalam hubungan AS-China. Salah satu fokus utama pejabat China adalah menghalangi paket penjualan senjata AS senilai US$14 miliar yang diusulkan untuk Taiwan.

Beijing mengklaim pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya, sementara AS memberikan dukungan militer kepada Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri dan mempertahankan hubungan yang kuat meski tidak resmi dengan pemerintahnya.

Beijing sebelumnya meminta pemerintahan Trump untuk secara resmi menyatakan bahwa AS “menentang” kemerdekaan Taiwan, sebuah konsesi yang akan memberi China kemenangan diplomatik besar. Setelah Trump bertemu dengan Xi di Beijing pada Mei, presiden AS tersebut mengatakan mereka telah membahas penjualan senjata AS kepada Taiwan dan menyatakan bahwa dia tidak menginginkan “perang yang berjarak 9.500 mil”.

Jika Taiwan menjadi bagian dari pembahasan pekan ini, pertanyaannya adalah apakah Trump akan mengorbankan sebagian kepentingan Taiwan sebagai imbalan atas konsesi dari Beijing.

(bbn)

No more pages