Kesepakatan yang telah diumumkan Trump pada Jumat itu akan memperluas peran militer Washington di Greenland, meski pulau tersebut tetap berada di bawah kedaulatan Denmark.
Selain membangun pangkalan baru di Narsarsuaq dan Mestersvig, kesepakatan tersebut memungkinkan AS memperluas pangkalan antariksa Pituffik yang sudah ada serta memberikan opsi untuk menambah area pertahanan jika diperlukan. Perjanjian itu juga mencatat peran Greenland sebagai bagian dari sistem pertahanan Golden Dome dan memberikan Washington kewenangan untuk turut menentukan aktivitas militer asing serta investasi sensitif di wilayah tersebut.
Kesepakatan ini mengakhiri berbulan-bulan perundingan untuk menyelesaikan perselisihan mengenai wilayah Denmark yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut. Perselisihan itu pada Januari berkembang menjadi krisis diplomatik besar di antara negara-negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO). Kebuntuan tersebut dipicu oleh ancaman Trump yang berulang kali sejak menjabat untuk mencaplok Greenland atau mengambil alih kendali atas pulau tersebut.
Dalam pidatonya, Trump juga memuji Denmark sebagai “negara yang luar biasa dan indah”, seraya mengatakan kedua pihak telah “benar-benar membangun ikatan” selama proses perundingan.
Trump sebelumnya mengatakan kesepakatan tersebut tidak akan membebani AS, tetapi teks perjanjian tidak menjelaskan bagaimana perluasan kehadiran militer itu akan didanai. Dalam upacara penandatanganan, dia juga mengabaikan pertanyaan wartawan mengenai apakah kesepakatan tersebut tidak sampai memberikan kepemilikan atas Greenland kepada AS, seperti yang sebelumnya dia inginkan.
Dalam pernyataan singkatnya, Frederiksen mengatakan kesepakatan tersebut akan mencegah pihak-pihak yang menjadi lawan memperoleh “kendali atau pengaruh signifikan apa pun di Greenland”, sekaligus meningkatkan kehadiran sekutu di kawasan tersebut.
“Presiden, Anda sudah sangat jelas. Anda tidak ingin pihak-pihak yang menjadi lawan berada terlalu dekat,” kata perdana menteri Denmark tersebut. “Saya sepenuhnya setuju, dan dengan kesepakatan ini, mereka tidak akan berada di sana.”
Kesepakatan tersebut memperluas perjanjian Greenland yang telah ada sejak 1951 dan diperbarui pada 2004, yang sebelumnya telah memberikan keleluasaan luas kepada AS untuk menempatkan pasukan di pulau tersebut. Kerangka sebelumnya mewajibkan Washington berkonsultasi dengan Denmark dan Greenland mengenai perubahan signifikan terhadap kehadiran militernya. Prinsip tersebut kini kembali ditegaskan, kata Frederiksen dalam konferensi pers setelah penandatanganan. Dia menolak menjelaskan apa yang diberikan kesepakatan baru kepada AS yang sebelumnya tidak dapat diperoleh berdasarkan perjanjian lama.
Pemimpin Greenland, Nielsen, yang juga berbicara dalam upacara penandatanganan, menyebutnya sebagai “hari yang sangat penting bagi keamanan bersama kita.”
“Kami adalah, telah menjadi, dan akan tetap menjadi sahabat Amerika Serikat yang teguh serta bagian dari aliansi Barat,” katanya. “Keamanan Anda adalah keamanan kami, dan keamanan kami adalah keamanan Anda.”
Perjanjian tersebut menyatakan bahwa jika Greenland menjadi negara merdeka, Denmark dan Greenland harus memastikan wilayah itu tetap menjadi bagian dari NATO.
"Tidak ada negara bukan anggota NATO yang diizinkan untuk mendirikan instalasi militer berawak maupun nirawak milik mereka sendiri di Greenland, ataupun diizinkan menempatkan kekuatan militer secara permanen di Greenland, kecuali disepakati lain oleh Para Pihak." — Kutipan dari perjanjian.
Penyelesaian kebuntuan diplomatik tersebut terjadi setelah serangkaian kemunduran bagi Trump, termasuk pertempuran berkepanjangan di Timur Tengah, tidak adanya terobosan dalam upaya mengakhiri perang Rusia di Ukraina, serta tekanan biaya hidup yang terus berlanjut bagi pemilih AS menjelang pemilihan paruh waktu.
Sejak kembali menjabat tahun lalu, Trump berulang kali menekan Denmark, yang merupakan sekutu NATO, untuk menyerahkan Greenland. Ketegangan meningkat pada Januari setelah Trump menolak mengesampingkan kemungkinan tindakan militer, yang mendorong Denmark dan sekutu NATO lainnya mengirim pasukan ke pulau tersebut.
Meskipun pengerahan pasukan tersebut secara terbuka disebut sebagai latihan, Kopenhagen mengirim pasukan dengan amunisi aktif yang telah dipersiapkan untuk meledakkan landasan pacu bandara guna mencegah pasukan AS mendarat jika Trump berupaya merebut Greenland dengan kekuatan militer, menurut laporan DR.
Konfrontasi mulai mereda setelah Trump mengadakan pembicaraan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dalam World Economic Forum di Davos, Swiss. Dalam pertemuan tersebut, keduanya menyepakati garis besar kerangka perjanjian mengenai Greenland. Pejabat senior dari Denmark, Greenland, dan AS sejak itu mengadakan perundingan melalui kelompok kerja yang dibentuk untuk menangani perselisihan tersebut.
Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen sebelumnya pada Selasa menyebut periode tersebut sebagai “babak yang merusak” dalam hubungan transatlantik. Dalam video yang diunggah di media sosial, dia mengatakan berharap kesepakatan tersebut kini dapat mengakhiri periode tersebut.
(bbn)




























