Saham–saham kesehatan, saham energi, dan saham infrastruktur menjadi pemberat pelemahan IHSG, dengan melemah mencapai 2,95%, 1,65% dan 1,45%. Sebaliknya, saham keuangan berhasil menguat 0,55% hingga menjadi pendorong menyusutnya pelemahan IHSG.
Menariknya, saham–saham big banks, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil menguat 130 poin atau dengan kenaikan 3,97% di level Rp3.400/saham pada penutupan perdagangan Senin (14/9/2026).
Lebih potensial lagi, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menguat 175 poin dengan kenaikan 2,76% di posisi Rp6.500/saham pada penutupan perdagangan.
Kenaikan saham BBRI dan saham BBCA tersebut turut menahan kejatuhan IHSG yang ditutup menjadi ‘hanya’ melemah 0,1%.
Terbatasnya pelemahan IHSG tak lepas dari kenaikan dan reboundnya sejumlah saham big caps.
Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Senin (14/9/2026).
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyumbang 19,08 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 15,52 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang 10,16 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyumbang 8,35 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menyumbang 8,23 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyumbang 6,56 poin
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyumbang 3,97 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) menyumbang 2,86 poin
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menyumbang 0,98 poin
- PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) menyumbang 0,72 poin
Namun, rebound IHSG dibatasi turunnya banyak saham. Diantaranya sebagai berikut.
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 20,48 poin
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mengurangi 9,82 poin
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) mengurangi 7,6 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 5,05 poin
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengurangi 4,59 poin
Mengutip paparan Phintraco Sekuritas, IHSG sempat melemah hingga level 6.371, namun kembali ditutup di atas level 6.534. Sebelumnya IHSG mayoritas bergerak di teritori negatif di sepanjang perdagangan, akibat sentimen negatif dari harga minyak mentah yang masih bertahan di atas level US$100/barel.
Menjelang penutupan pasar, indeks berbalik arah dan sempat menguat terbatas, setelah diberitakan Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Pasar merespons positif pergantian Menteri Keuangan RI hingga mendorong pelemahan IHSG berkurang pada Senin (14/9/2026).
Presiden Prabowo Subianto menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan Indonesia yang baru per 14 September 2026, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa dalam perombakan kabinet terbaru.
“Promosi Suahasil dari jabatan Wakil Menteri Keuangan memberikan tingkat kesinambungan kelembagaan di lingkungan kementerian. Pemerintah belum memberikan penjelasan terperinci mengenai pergantian kepemimpinan tersebut,” papar RHB Sekuritas dalam riset terbarunya.
RHB memandang Suahasil sebagai ekonom yang disegani dan pembuat kebijakan fiskal yang sangat berpengalaman. Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Indonesia (UI), Suahasil memperoleh gelar Master dan Doktor dari Cornell University. Pengalamannya mencakup posisi Kepala Badan Kebijakan Fiskal dan Wakil Menteri Keuangan sejak 2019, disertai perjalanan akademis yang panjang di Universitas Indonesia.
“Investor akan mencermati sikap Suahasil terkait belanja pemerintah, transfer ke daerah, subsidi energi, dan penempatan likuiditas pada bank-bank BUMN. Komitmen yang kuat terhadap disiplin fiskal dan transparansi pendanaan program prioritas dapat membantu menstabilkan rupiah, obligasi pemerintah, dan saham perbankan,” sebut RHB Sekuritas.
Sebaliknya, kebijakan fiskal yang lebih ekspansif atau intervensi kebijakan yang lebih besar dapat mempertahankan tekanan terhadap imbal hasil obligasi dan rupiah, sekaligus meningkatkan ketidakpastian terkait likuiditas dan kondisi pendanaan sektor perbankan.
Senada, Panin Sekuritas menyematkan respons market “Positive dengan menimbang rekam jejak dan kapabilitasnya sebagai Wamenkeu. Kami menilai arah kebijakannya relatif prudent terhadap fiskal, menyerupai sikap kebijakan era Menkeu Sri Mulyani. Kendati demikian, kebijakan yang berjalan utamanya akan bergantung pada keputusan RI 1,” mengutip riset laporannya.
(fad/naw)



























