Mega Jelita dan Tantangan Perempuan Memimpin di TransNusa

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kepemimpinan di industri penerbangan menuntut kemampuan beradaptasi dengan situasi yang dinamis. Chief Flight Attendant TransNusa Mega Jelita menerapkan pendekatan kepemimpinan adaptif dengan membedakan ketegasan dalam aspek keselamatan dan regulasi dengan pendekatan yang lebih terbuka dalam pelayanan serta pengelolaan tim.
Hal tersebut disampaikan Mega dalam sesi panel Different Paths, One Purpose: Women Leading Change Across Industries pada ajang Women On The Move 2026 yang digelar Bloomberg Technoz di Sudamala Resort Senggigi, Lombok, Jumat (11/9/2026).
Women On The Move merupakan executive retreat tahunan Bloomberg Technoz yang mempertemukan perempuan dari berbagai sektor. Memasuki tahun keempat, kegiatan ini mengusung semangat leadership, collaboration, sustainability, dan women empowerment.
Mega mengatakan perjalanan kariernya di industri penerbangan bermula dari sebuah keputusan yang tidak sepenuhnya direncanakan. Setelah menyelesaikan pendidikan S1, dia pada 2013 mendapat kesempatan bergabung sebagai awak kabin di salah satu maskapai swasta besar.
“Kalau dari saya sejujurnya, dulu ini merupakan sebuah keputusan yang impulsif. Saya menyelesaikan pendidikan saya, menyelesaikan S1 saya, kemudian di 2013 saya secara impulsif mendapatkan kesempatan untuk bergabung atau menjadi seorang awak kabin,” kata Mega.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya berpindah ke sejumlah maskapai. Pada 2015, Mega bergabung dengan salah satu maskapai BUMN terbesar di Indonesia sebelum akhirnya bergabung dengan TransNusa pada 2017.
Menurut Mega, TransNusa menjadi ruang bagi dirinya untuk terus berkembang. Dia mendapatkan kesempatan untuk menapaki berbagai jenjang, mulai dari awak kabin, instruktur, hingga masuk ke jajaran manajemen.
“Di 2017, dan ternyata saya jatuh cinta dengan perusahaannya. Jadi akhirnya saya bertahan dari 2017 sampai sekarang,” ujarnya.
Mega mengatakan pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk memahami industri penerbangan dari sisi operasional hingga manajemen. Perjalanan itu kemudian mengantarkannya pada posisi Chief Flight Attendant.
“Saya diberikan kesempatan yang sangat luar biasa untuk belajar dan berkembang di TransNusa,” katanya.
Mega menjelaskan, gaya kepemimpinannya saat ini banyak dipengaruhi oleh karakter industri penerbangan yang sangat mengutamakan keselamatan, keamanan, dan kepatuhan terhadap prosedur.
“Untuk di industri aviasi sendiri, saya sebenarnya menerapkan leadership yang adaptive,” ujar Mega.
Dalam aspek regulasi, keselamatan, keamanan, dan standard operating procedure (SOP), Mega mengatakan seorang pemimpin harus mampu bersikap tegas agar seluruh prosedur dijalankan secara konsisten.
“Kalau sudah berbicara mengenai regulasi, safety, security, SOP, itu saya harus mengeluarkan sikap yang agresif. Artinya apa yang saya instruksikan ke teman-teman itu harus dilakukan dengan tepat,” tuturnya.
Menurut Mega, ketegasan tersebut diperlukan untuk meminimalkan celah terjadinya insiden maupun kecelakaan dalam operasional penerbangan.
Namun, pendekatan tersebut tidak selalu diterapkan ketika berhadapan dengan aspek pelayanan dan kesejahteraan pekerja. Dalam kondisi tersebut, seorang pemimpin justru perlu membuka ruang komunikasi dengan tim.
“Sementara kalau kita berbicara mengenai service, kemudian kita melihat jiwa-jiwa atau kesejahteraan dari rekan-rekan kerja di lapangan, itu akhirnya saya harus mampu untuk menampung semua kendala-kendala yang mereka sampaikan,” katanya.
Mega juga membuka ruang bagi tim untuk menyampaikan ide dan inovasi yang dapat diterapkan dalam pekerjaan. Menurutnya, kepemimpinan tidak cukup hanya dengan memberikan instruksi tanpa memahami kondisi orang-orang yang menjalankannya.
“Karena jangan sampai sebagai leader saya hanya memberikan instruksi mereka, saya tidak mau tahu mereka harus melakukan dengan baik, tapi ternyata di lapangan pekerjanya pun berdarah-darah,” ujar Mega.
Menghadapi Tantangan Kepemimpinan Perempuan
Perjalanan Mega menuju posisi manajemen juga tidak terlepas dari tantangan karena struktur kepemimpinan di sektor penerbangan masih banyak diisi laki-laki, terutama ketika seorang pekerja berpindah dari fungsi operasional ke manajemen.
Dia mengatakan, profesi awak kabin memang identik dengan dominasi perempuan. Namun, kondisi tersebut berbeda ketika memasuki jenjang manajemen.
“Jajaran manajemen area di industri penerbangan itu sebetulnya juga dikuasai oleh sebagian besar laki-laki. Memang pada saat di lapangan flight attendant identik dengan woman domination, tapi ketika sudah beralih ke office, biasanya kepemimpinan itu selalu dipegang oleh laki-laki,” kata Mega.
Situasi tersebut sempat memunculkan pertanyaan dalam dirinya ketika pertama kali memasuki jajaran manajemen. Dia mempertanyakan kemampuan dan kompetensinya untuk memegang posisi kepemimpinan di industri yang selama ini banyak diisi laki-laki.
“Pasti akan ada pandangan-pandangan seperti apakah saya mampu, apakah saya memiliki kompetensi atau mampu memegang peranan penting ini,” ujarnya.
Untuk menjawab keraguan tersebut, Mega memilih membuktikan kompetensi melalui kinerja sekaligus terus belajar. Dukungan dari rekan kerja, baik perempuan maupun laki-laki, juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
“Selain saya berusaha keras untuk menunjukkan kompetensi yang saya miliki, saya berusaha keras untuk menunjukkan bahwa saya mampu dan tidak salah untuk ada di posisi tersebut,” katanya.
Mega menilai kesalahan merupakan bagian dari proses kepemimpinan. Karena itu, kritik maupun keputusan yang kurang tepat tidak semestinya menjadi alasan bagi seorang pemimpin untuk berhenti berkembang.
“Setiap prosesnya saya selalu belajar. Salah itu manusiawi,” ujarnya.
Dia mengaku dalam proses pengambilan keputusan, tidak semua keputusan akan menghasilkan hasil yang sesuai harapan. Namun, pengalaman tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk mengambil keputusan yang lebih baik pada tahap berikutnya.
“Ketika membuat keputusan yang salah, saya akan memperbaiki pastinya, memperbaiki dengan memikirkan semua dampak-dampak yang akan terjadi ke depannya,” tutur Mega.
Bagi Mega, pembuktian kepemimpinan tidak berhenti pada kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga pada kesediaan memperbaiki diri dan menunjukkan hasil yang lebih baik melalui pekerjaan berikutnya.
“Kemudian dibuktikan dengan next project-nya saya akan berusaha menunjukkan yang lebih baik lagi,” katanya.
Melalui sesi Different Paths, One Purpose, Women On The Move 2026 menunjukkan bahwa perjalanan kepemimpinan perempuan dapat lahir dari berbagai jalur profesi. Di industri penerbangan, pengalaman Mega memperlihatkan bahwa kepemimpinan adaptif membutuhkan kombinasi ketegasan dalam menjaga keselamatan, kemampuan mendengar tim, serta keberanian untuk terus belajar dari setiap keputusan.






























