BRICS harus “memperkuat kerja sama di bidang AI, mendorong sumber terbuka, keterbukaan, kolaborasi, dan berbagi,” katanya.
Xi Jinping tengah berupaya memperluas pengaruhnya seiring dengan semakin menjadi arena persaingan baru bagi negara-negara adidaya dunia dalam tata kelola AI global.
Beijing berupaya membangun ekosistem AI sumber terbuka yang menawarkan alternatif yang lebih murah bagi warganya dan pelanggan global dibandingkan teknologi AS, sementara pengembang AS seperti OpenAI dan Anthropic lebih memilih model tertutup.
Untuk saat ini, belum jelas apakah visi China tersebut mendapat dukungan dari anggota BRICS lainnya seperti Uni Emirat Arab dan India.
Deklarasi bersama yang dikeluarkan oleh aliansi tersebut pada hari Sabtu tidak secara eksplisit menyinggung usulan Xi. Sebaliknya, deklarasi itu menyerukan “kerja sama internasional dalam meningkatkan aksesibilitas sumber daya AI sambil memastikan keselamatan, keamanan, inklusivitas, dan keandalannya.”
Xi proposes initiatives on "greater BRICS" cooperation
— People's Daily, China (@PDChina) September 13, 2026
Chinese President Xi Jinping on Sunday proposed five initiatives on "greater BRICS" cooperation in areas of AI, trade and investment facilitation, digital industry, smart manufacturing, and talent development.
Xi made the… pic.twitter.com/yZrLLLCLHv
Beijing kemungkinan akan kembali mendorong tata kelola AI saat menjadi tuan rumah KTT BRICS pada tahun 2027. Media pemerintah mengisyaratkan bahwa fokus tahun depan akan tertuju pada topik-topik termasuk AI, ekonomi digital, dan pembangunan ramah lingkungan.
Pendekatan sumber terbuka Tiongkok juga disebutkan oleh Menteri Keamanan Negara Chen Yixin sebagai cara untuk memastikan keamanan dan keadilan AI.
Beberapa negara menggunakan daftar hitam, ekosistem sumber tertutup, dan pembatasan teknologi untuk “memutus rantai industri dan rantai pasokan AI global, sehingga memperparah ketidakseimbangan perkembangan industri AI global,” tulis Chen dalam sebuah artikel jurnal yang dipublikasikan pada hari Sabtu.
Namun, Beijing juga menegaskan bahwa keterbukaan memiliki batasannya.
Xi Jinping memberi penekanan bahwa perlunya menyeimbangkan pembangunan dan keamanan dalam penampilan perdananya di KTT AI terkemuka Chipana da bulan Juli.
Sebuah akun media sosial yang sering digunakan untuk mengisyaratkan pemikiran kebijakan resmi telah menyatakan bahwa Tiongkok harus membatasi akses ke fitur-fitur paling canggih dari model kecerdasan buatan.
(bbn)































