Logo Bloomberg Technoz

ANTM akan fokus pada optimalisasi produksi dan penjualan komoditas, terutama emas dan nikel, sehingga aset dan kapasitas yang dimiliki dapat menghasilkan volume dan kualitas margin yang optimal.

Selain itu, ANTM berupaya meningkatkan margin dan cost competitiveness di tengah dinamika harga komoditas.

Arini mengatakan kemampuan mengendalikan biaya menjadi salah satu aspek yang dapat dikontrol manajemen.

"Kami juga pasti menjaga kemampuan kami mengolah cash cost. Nah ini hal yang controllable bagi manajemen," ujar Arini.

ANTM juga menjaga sejumlah komponen biaya, mulai dari inventory cost, logistik, jumlah hari persediaan khususnya untuk bisnis logam mulia, shipping, operational expenditure, hingga fixed cost.

Menurut Arini, pengendalian biaya tersebut dilakukan agar setiap tambahan pendapatan dapat dikonversi menjadi profitabilitas yang sehat dan berkelanjutan.

Di sisi lain, perseroan juga memperkuat modal kerja, persediaan, serta cash conversion. Langkah tersebut dilakukan agar pertumbuhan laba turut diikuti arus kas yang sehat sehingga fleksibilitas keuangan ANTM tetap memadai untuk mendukung kebutuhan operasional dan agenda pertumbuhan.

"Fokus kami, manajemen Antam, adalah menjaga kualitas pertumbuhan melalui penguatan volume, margin, efisiensi biaya, cash generation, cash flow conversion, dan juga disiplin inventory serta investasi," kata Arini.

Arini menambahkan, ANTM juga menyiapkan sejumlah capex strategis sebagai sumber pertumbuhan baru. Dalam pengembangan bisnis, perseroan akan mengoptimalkan proyek di lini alumina serta hilirisasi nikel dan kendaraan listrik.

Setiap investasi, lanjut Arini, dievaluasi berdasarkan IRR, NPV, cash flow, dan value creation. Dengan demikian, perseroan tidak hanya mengejar skala pertumbuhan, tetapi juga memastikan tingkat pengembalian yang sehat bagi pemegang saham.

Belanja Modal

ANTM menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (Capex) sekitar Rp6 triliun pada 2026. Porsi capex tersebut akan difokuskan untuk pengembangan rantai bisnis kendaraan listrik (electric vehicle/EV) battery dan bisnis emas.

Arini mengatakan realisasi investasi pada sejumlah proyek pengembangan akan dilakukan secara bertahap. Perseroan akan menyesuaikan pelaksanaan investasi dengan kesiapan proyek, perizinan, struktur pendanaan, serta aspek keekonomian proyek.

Penilaian investasi dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah indikator, termasuk internal rate of return (IRR), weighted average cost of capital (WACC), net present value (NPV), serta total return yang dapat diberikan kepada ANTM dan pada akhirnya pemegang saham.

"Pada beberapa proyek, kami melakukan reassessment terhadap ekonominya," ujar Arini.

Menurutnya, evaluasi tersebut dilakukan pada setiap tahapan proyek dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi ekonomi makro, harga komoditas, harga bahan baku, biaya operasional, regulasi, serta kondisi supply dan demand pasar.

Dengan pendekatan tersebut, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada pencapaian milestone pembangunan proyek. ANTM juga memastikan proyek yang dikembangkan mampu memberikan tingkat pengembalian yang optimal dan berkelanjutan.

Sebelumnya, ANTM memaparkan sejumlah proyek strategis yang menjadi bagian dari agenda pertumbuhan perseroan. Pada lini emas, ANTM mengembangkan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik dengan kapasitas sekitar 30 ton emas per tahun atau hingga 5 juta keping produk. Fasilitas tersebut ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2028.

Sementara pada lini EV battery, ANTM mengembangkan proyek high pressure acid leach (HPAL) di Buli, Halmahera Timur, bersama konsorsium CBL. ANTAM memiliki kepemilikan sebesar 30% pada proyek tersebut dengan kapasitas produksi sekitar 55.000-60.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun.

Nilai investasi proyek HPAL diperkirakan mencapai US$1,9 miliar dan saat ini telah memasuki tahap final investment decision (FID).

Selain itu, ANTM mengembangkan proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) di Buli dengan kepemilikan sebesar 40%. Proyek tersebut mencakup delapan line RKEF dan kawasan industri dengan kapasitas sekitar 88.000 ton nickel pig iron (NPI) per tahun.

Nilai investasi proyek RKEF diperkirakan sebesar US$1,4 miliar dengan periode pengembangan hingga 2027. Saat ini proyek berada pada tahap pra-IPC dan pra-pembiayaan sebelum memasuki konstruksi penuh.

(fik/naw)

No more pages