Hanya saja, berdasarkan data paparan Kemenperin, masih terdapat sejumlah poin yang menjadi hambatan dalam pengembangan motor listrik nasional atau Molinas. Salah satu di antaranya adalah ekosistem manufaktur elektronik nasional yang masih belum matang dan membutuhkan investasi jangka panjang pada pemasok serta talenta teknis.
Kemudian, rantai nilai baterai NMC yang memerlukan dukungan insentif serta kepastian permintaan untuk menarik investasi strategis dan mempercepat industrialisasi; serta komponen plastik lokal yang masih 30%-60% lebih mahal dari China akibat keterbatasan skala dan ketergantungan impor bahan baku.
"Ada beberapa proses manfukatur yang dilakukan di sini, dan beberapa industri terlibat juga. Ini mekanisme adalah mereka bekerja sama dengan Len sebagai lead integratornya," kata Tata.
Program Molinas telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 13 Agustus 2026 lalu di asilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA) di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Dari sisi pasar, pemerintah memproyeksikan total permintaan motor listrik pada 2028 mencapai sekitar 1,5 juta unit. Adapun target produksi motor listrik pada 2026 dipatok mencapai 75.000 unit.
Pengembangan ekosistem Molinas pada periode 2026-2031 dengan diperkirakan menghasilkan potensi ekonomi sekitar Rp150 triliun dan menciptakan sekitar 215.000 lapangan kerja dari sektor OEM, komponen, baterai, infrastruktur pengisian daya hingga jasa pendukung.
Sementara, segmen pasar yang dibidik mencakup pemerintah dan BUMN, pengemudi ojek online, konsumen pedesaan, komuter perkotaan hingga pelaku UMKM.
(ain)





























