Harga beras tercatat naik di banyak provinsi, di antaranya adalah Maluku (2,65%), Kepulauan Bangka Belitung (2,27%), Kalimantan Tengah (1,79%), Sulawesi Utara (1,57%), dan Banten (1,56%).
Rasanya daging ayam ras akan salah satu menjadi penyumbang inflasi yang signifikan pada Agustus. Penurunan harga hanya terjadi di tiga provinsi yaitu Kalimantan Barat (0,95%), Gorontalo (1.59%), dan Nusa Tenggara Timur (2,41%).
Sedangkan di provinsi lainnya, harga daging ayam ras naik lumayan tinggi. Tertinggi terjadi di Aceh (18,75%), Jawa Timur (18,25%), Nusa Tenggara Barat (17,37%), Sumatera Utara (16,79%), dan DI Yogyakarta (15,17%).
Selain daging ayam ras, cabai merah juga mungkin menjadi kontributor besar untuk inflasi Agustus. Harga cabai merah meroket di Sulawesi Utara (175%), Gorontalo (106,9%), Maluku Utara (100%), Sulawesi Tengah (73,28%), dan Maluku (41,67%).
Cabai rawit pun makin ‘pedas’ dan rasanya bakal jadi penyumbang inflasi. Sejumlah provinsi yang mencatat kenaikan harga signifikan adalah Gorontalo (199,85%), Sulawesi Utara (109,03%), Sulawesi Tengah (108,76%), Sulawesi Selatan (107,65%), dan Sulawesi Barat (95,17%).
Inflasi Tahunan & Arah Suku Bunga Acuan
Sementara itu, konsensus yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi inflasi Agustus secara tahunan (year-on-year/yoy) di 3,11%. Jika kejadian, maka lebih tinggi ketimbang Juli yang sebesar 2,88% yoy.
Kemudian konsensus untuk inflasi inti (core) pada Agustus ada 2,83% yoy. Lebih tinggi dari posisi Juli yang sebesar 2,76% yoy.
Tamara Mas Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, menyebut inflasi masih berada di rentang target bank sentral di 1,5-3,5%. Dukungan pemerintah melalui berbagai subsidi membantu mengurangi beban rakyat dari kenaikan harga minyak dunia.
Ke depan, Henderson memperkirakan laju inflasi masih bisa terakselerasi. Bahkan bisa saja berada di atas target Bank Indonesia (BI).
“Kami memperkirakan inflasi akan memuncak pada semester I-2027 seiring dampak El Nino yang mengerek harga pangan,” tulis Henderson dalam catatannya.
Inflasi yang belum ‘jinak’ pun akan mempersulit BI untuk melonggarkan kebijakan moneter. Setelah kenaikan 125 basis poin (bps) sejak Mei, sulit BI Rate bergerak turun.
Ditambah lagi rupiah masih membutuhkan dukungan suku bunga. Sebab, fundamental rupiah sedang dalam posisi rawan.
Pada kuartal II-2026, transaksi berjalan (current account) Indonesia mencapai US$ 12,49 miliar atau 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini menjadi rekor defisit terdalam sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
“Kami memperkirakan defisit transaksi berjalan akan menyempit ke arah 1,5% PDB pada akhir 2026 seiring penurunan harga minyak dunia dan perlambatan permintaan domestik, dan dampak kenaikan BI Rate pada kuartal II,” sebut riset PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN).
Danamon memperkirakan malah BI mungkin saja kembali mengetatkan kebijakan moneter. Hingga akhir tahun, BI Rate diramal bisa naik dua kali lagi menjadi 6,25%.
“Perlambatan di pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) mengurangi potensi kenaikan Federal Funds Rate dalam waktu dekat. Namun inflasi yang masih ‘bandel’ dan risiko geopolitik membuat kami tetap memperkirakan kenaikan 25 bps pada kuartal IV-2026.
“Kami pun memperkirakan BI akan merespons dengan kenaikan dua kali 25 bps menjadi 6,25% hingga akhir tahun karena pelebaran defisit transaksi berjalan yang menyebabkan kerentanan bagi rupiah. Namun sebelum menaikkan suku bunga, sepertinya BI akan memprioritaskan kebijakan non-bunga,” jelas riset Danamon.
- Dengan asistensi Dian SP -
(aji)




























