Faktor kedua berasal dari pertumbuhan kredit. Dalam hal ini, BRI tetap mempertahankan fokus pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mencakup lebih dari 75% portofolio kredit perseroan.
Hery mengatakan pertumbuhan kredit UMKM terus meningkat. Kredit konsumer juga mengalami pertumbuhan. Selain volume kredit, tingkat imbal hasil (yield) kredit turut menjadi perhatian perseroan.
“Dan dengan pertumbuhan kredit yang mulai membaik ini dan yield yang cukup-cukup baik, itu membuat kita menjadi bank yang bisa mendukung pertumbuhan,” katanya.
Sementara itu, BRI juga mendorong fee based income melalui aktivitas transaksi, biaya administrasi, serta berbagai transaksi lainnya dalam ekosistem perseroan. Hery menyebut, kombinasi dari penguatan pendanaan, pertumbuhan kredit, dan fee based tersebut tercermin pada kinerja BRI sepanjang semester I 2026.
“Ini adalah satu berkah ya, satu hal yang perlu kami syukuri. Kami mengerti bahwa di tengah dinamika ekonomi yang tidak terlalu menjanjikan, tapi BRI mampu membangun momentum pertumbuhan semakin sehat dan kualitas,” tutur Hery.
Hingga semester I 2026, BRI mencatat net interest income sebesar Rp80,5 triliun, tumbuh 9,9% secara tahunan. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) meningkat 12,8% menjadi Rp65,7 triliun, sementara laba bersih mencapai Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5% secara tahunan.
(lav)






























