Logo Bloomberg Technoz

Kemampuannya memperoleh bahan baku dari dalam negeri membantunya mengungguli kinerja Sinopec, yang justru mencatat kerugian pada bisnis bahan kimianya pada semester I-2026.

Sinopec, perusahaan kilang minyak terbesar di China sekaligus perusahaan afiliasi PetroChina, pekan lalu menyatakan bahwa konflik AS-Iran dan inovasi energi bersih di dalam negeri kemungkinan besar telah memicu penurunan permintaan minyak, dengan konsumsi nasional diperkirakan mencapai puncaknya pada tahun lalu.

Secara keseluruhan, laba bersih PetroChina naik menjadi 103,9 miliar yuan (US$15,5 miliar) selama enam bulan hingga akhir Juni, dibandingkan dengan 85,2 miliar yuan pada semester pertama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan juga meningkat sebesar 5,3%.

Sebagian besar kenaikan tersebut disebabkan oleh tingginya harga minyak akibat konflik Iran. Harga rata-rata minyak mentah Brent tercatat sekitar US$87/barel dari Januari hingga Juni, dibandingkan dengan sekitar US$71 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Harga acuan global ini sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun di atas US$126/barel pada akhir April, tetapi kemudian sebagian besar kenaikan harga tersebut kembali turun.

Kendati demikian, prospek ke depan masih belum pasti mengingat konflik telah berlangsung selama enam bulan tanpa tanda-tanda akan berakhir.

Penyulingan dan Perdagangan

PetroChina juga menjalankan operasi kilang berskala besar. Bagi unit bisnis ini, kenaikan harga minyak berarti biaya bahan baku yang lebih mahal.

Perusahaan tidak dapat membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen karena pemerintah membatasi ekspor bahan bakar dan menetapkan batas atas harga domestik guna mengendalikan inflasi.

Meski demikian, perusahaan minyak raksasa tersebut terlindung dari sebagian dampak volatilitas global; jaringan produksi domestiknya yang kuat membuat perusahaan tidak terlalu terdampak oleh kenaikan biaya angkut dan asuransi akibat gangguan pelayaran, demikian disampaikan oleh analis Morgan Stanley, termasuk Jack Lu, dalam sebuah catatan.

PetroChina sendiri mencatat penurunan penjualan bahan bakar sebesar 5,8% pada semester pertama tahun ini dan mengurangi jumlah stasiun pengisian bahan bakarnya.

Perusahaan ini juga telah menjadi pelaku perdagangan internasional yang lebih lincah. Investasi di sektor energi bersih serta fasilitas penyimpanan minyak dan gas telah memberikan fleksibilitas lebih besar dalam hal impor, dan PetroChina sangat agresif dalam menjual kembali kargo gas alam cair (LNG) miliknya ke pasar lain saat harga menguntungkan.

Saham perusahaan naik hingga 2,1% di Hong Kong pada Senin (31/8/2026).

(bbn)

No more pages