Namun, sikap hawkish The Fed berpotensi memberi risiko jangka pendek terhadap rupiah dengan menguatnya dolar AS dan kenaikan suku bunga acuan AS. Hal ini mulai tergambar pada posisi rupiah offshore yang kemudian kembali defensif hingga ke Rp17.790/US$ pada 07:14 WIB.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi kembali memperkuat daya tarik dolar AS. Kondisi ini sekaligus meningkatkan biaya bagi investor yang mengambil posisi short dollar, sehingga dapat mendorong tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Untuk rupiah, saya melihat risikonya memang meningkat dalam jangka pendek. Ketika pasar kembali melakukan repricing terhadap Fed Funds Rate, dollar carry menjadi lebih menarik. Kita harus memberikan ruang bagi rupiah untuk melakukan price discovery terhadap perubahan kondisi global tersebut,” kata Fakhrul dalam catatannya.
Namun, Fakhrul menambahkan tekanan tersebut belum tentu berlanjut menjadi pelemahan rupiah yang berkepanjangan. Menurutnya, arah rupiah ke depan akan sangat bergantung pada pergerakan indeks dolar AS (DXY), kondisi neraca pembayaran Indonesia, serta kemampuan pasar domestik dalam mempertahankan arus masuk modal asing.
Bank Indonesia (BI) juga berkali-kali menengaskan posisinya untuk melakukan intervensi pasar untuk menopang stabilitas rupiah. Terlebih, BI juga baru saja menyerap Rp24 triliun dari lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Jumat (28/8/2026) lalu dengan yield rata-rata tertimbang turun menjadi 7% dari lelang sebelumnya yang sebesar 7,37%.
Selain itu, pasar domestik setidaknya juga masih memiliki sejumlah bantalan, terutama jika arus modal asing ke aset Indonesia tetap terjaga dan sentimen terhadap fundamental ekonomi domestik tidak mengalami perubahan berarti.
Fakhrul juga memperkirakan tekanan di pasar surat utang dari nada hawkish The Fed relatif lebih netral. Menurutnya, tekanan terhadap pasar obligasi biasanya menjadi jauh lebih besar ketika kebijakan The Fed menghasilkan kombinasi DXY menguat, US Treasury yield tenor panjang meningkat, dan investor global mengurangi eksposur terhadap emerging markets secara bersamaan.
Kali ini, menurutnya kombinasi itu belum sepenuhnya terbentuk. Kementerian Keuangan AS berencana memperbesar buyback obligasi tenor 10–30 tahun dengan tetap mempertahankan jadwal lelang reguler.
Sementara itu, perhatian investor juga akan tertuju pada data inflasi Agustus. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi tahunan meningkat menjadi 3,15%, dari 2,88% pada Juli. Angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia (BI) 1,5%-3,5%, tetapi kenaikan inflasi akan menjadi semakin penting, terlebih jika terjadi bersamaan dengan tekanan eksternal yang meningkat terhadap rupiah.
Sebagai catatan, tekanan inflasi ke depan berpotensi datang dari beberapa arah. Ada tiga sumber risiko yang perlu diperhatikan pasar.
Pertama, harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan biaya transportasi, logistik, dan produksi secara bertahap. Kedua, pelemahan rupiah meningkatkan biaya barang impor dan dapat memperkuat imported inflation. Ketiga, risiko El Nino berpotensi menekan produksi pangan dan mendorong harga komoditas makanan.
Dari pasar Asia, won Korea Selatan melemah paling tajam 0,16%, sementara dolar Singapura lebih terbatas 0,02%. Sebaliknya, yen Jepang dan yuan offshore berhasil mempertahankan posisinya dengan penguatan terbatas 0,06%, dan 0,03%.
Selain nada hawkish The Fed, kenaikan harga minyak mentah Brent 0,16% ke US$89,45/barel kembali membebani pasar keuangan di kawasan.
Di tengah sentimen, dan proyeksi data tersebut rupiah di pasar spot diperkirakan akan kembali bergerak di rentang Rp17.670-17.750/US$ dengan bias pelemahan yang lebih terbatas, setelah akhir perdagangan pekan lalu menguat 0,19% di posisi Rp17.692/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah ada potensi melemah hari ini, terbentur resistancenya, dengan laju pelemahan di rentang support terdekat, dengan mencermati support level Rp17.710/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua berpotensi tertahan di Rp17.750/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, potensi melemah lanjutan melebar menuju Rp17.800/US$ sebagai support paling terkuatnya dalam time frame daily, hingga perdagangan sepekan.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan dengan volume besarnya dan berhasil menembus resistance, menarik dicermati area level Rp17.670/US$ dan selanjutnya Rp17.600/US$ secara potensial, terlebih lagi ada resistance Rp17.500/US$.
(riset/aji)



























