Ketegangan antara Jepang dan mitra dagang terbesarnya itu meningkat sejak Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November mengeluarkan pernyataan yang mengisyaratkan bahwa Tokyo dapat mengerahkan militernya jika Beijing menginvasi Taiwan. China merespons dengan menuduh Jepang menimbulkan ancaman militer bagi kawasan dan mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Jepang.
Di antara langkah lainnya, Beijing memperketat pengawasan ekspor terhadap produk penggunaan ganda atau dual-use, yakni barang yang dapat digunakan untuk keperluan sipil maupun militer.
Sebagai bentuk itikad baik, Takaichi mengirim surat kepada Presiden China Xi Jinping untuk menyampaikan belasungkawa atas banjir mematikan di sepanjang perbatasan China-Nepal, menurut Kementerian Luar Negeri Jepang.
Delegasi anggota parlemen Jepang tersebut bertemu dengan Lu selama dua jam, lebih lama dari satu jam yang direncanakan. Pertemuan itu juga diwarnai sejumlah pertukaran pandangan yang cukup keras, menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut dan meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas persoalan pribadi.
Pihak Jepang menilai dialog tatap muka tersebut bermanfaat, kata sumber tersebut.
Agenda kelompok tersebut selama berada di China juga mencakup pertemuan dengan pejabat dari Chinese Academy of Social Sciences dan Institute of Japanese Studies, kata sumber tersebut.
Delegasi itu juga mengunjungi fasilitas yang berkaitan dengan robotika dan kendaraan otonom di pusat teknologi Yizhuang, Beijing, serta Xiong’an New Area yang menjadi proyek unggulan Xi. Mereka juga bertemu dengan perwakilan perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di China, tambah sumber tersebut.
(bbn)































