Logo Bloomberg Technoz

“Langkah Departemen Keuangan adalah sinyal yang amat penting buat emas. Bahkan emas menjadi aset yang paling diuntungkan, sementara dolar AS akan membayar harganya,” kata Bhanu Baweja, Chief Strategist di UBS Group AG, dalam wawancara dengan Bloomberg TV.

Seiring dengan penurunan yield obligasi, dolar AS pun bergerak melemah. Sepanjang pekan lalu, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah nyaris 1%.

Emas juga merupakan aset yang dibanderol dalam dolar AS. Ketika mata uang Negeri Adikuasa terdepresiasi, maka emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain.

Analisis Teknikal

Jadi bagaimana proyeksi harga emas untuk minggu ini? Apakah bisa naik lagi atau malah terkoreksi?

Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), emas menempati zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 58. RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish.

Namun indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh 100. Paling tinggi, sangat jenuh beli (overbought).

Untuk perdagangan pekan ini, harga emas kemungkinan bisa turun. Kenaikan yang sudah lumayan tinggi membuat emas berisiko mengalami koreksi teknikal.

Cermati pivot point di US$ 4.520/troy ons. Dari situ, harga emas berisiko menguji support di rentang US$ 4.464-4.212/troy ons.

Target paling pesimistis ada di US$ 4.141/troy ons.

Namun jika harga emas masih kuat menanjak, maka US$ 4.632/troy ons bisa menjadi resisten terdekat. Penembusan di titik ini berpotensi membuat harga emas melanjutkan kenaikan menuju US$ 4.716-4.772/troy ons.

Target paling optimistis adalah US$ 5.086/troy ons.

(aji)

No more pages