Logo Bloomberg Technoz

Vlasiuk mengatakan kantornya memperkirakan 80% serangan terhadap pelabuhan di kawasan Odesa Raya—termasuk Chornomorsk dan Pivden yang berada di dekatnya—melibatkan Banderol. Rudal tersebut membawa hulu ledak seberat 150 kilogram, lebih besar dibandingkan hulu ledak Shahed, serta melaju terlalu cepat untuk dikejar drone pencegat terbaru Ukraina.

Namun, biaya Banderol yang relatif murah—diperkirakan sekitar US$150.000 hingga US$300.000 per unit—membuat penggunaan banyak rudal permukaan-ke-udara untuk menembaknya menjadi tidak sebanding, termasuk rudal pencegat Patriot yang persediaannya semakin menipis di Ukraina maupun secara global.

“Dalam hal kecepatan dan kemampuan bermanuver, senjata ini sebenarnya tidak sepenuhnya bisa disebut rudal,” kata Dmytro Pletenchuk, juru bicara Angkatan Laut Ukraina.

Senjata tersebut memiliki panjang sekitar 5 meter, dengan badan berbentuk kotak, sayap lipat pendek dan lurus, tiga sirip ekor yang dapat dilipat, serta dua sirip pemandu lipat di dekat bagian hidung.

Banderol dapat diluncurkan dari UAV berdaya tahan lama berukuran lebih besar seperti Orion milik Rusia. Namun, Serhii “Flash” Beskrestnov, penasihat perang elektronik bagi mantan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov yang baru saja diberhentikan, menyoroti kemunculan peluncur darat dalam unggahan Facebook pada 28 Juli.

“Dalam hal kombinasi jarak jangkau dan muatan, senjata ini tampaknya paling mirip dengan Ruta Block 1 buatan Ukraina. Namun, Ruta menggunakan mesin yang lebih bertenaga, sedangkan Banderol mengandalkan mesin jet mini sipil China yang telah dimodifikasi,” kata Fabian Hoffmann, pakar rudal di Norwegian Defense University College, merujuk pada rudal yang diproduksi perusahaan berbasis Eropa, Destinus.

Ukraina memperkirakan Rusia memproduksi ratusan Banderol setiap tahun. Para pejabat mengatakan pengetatan sanksi terhadap komponen asing dapat membantu menghambat produksi senjata tersebut.

Rudal-rudal itu memiliki jangkauan relatif pendek, hanya beberapa ratus kilometer. Karena itu, Rusia kini meluncurkannya dari Krimea untuk menyerang Odesa. Sistem pelabuhan “Odesa Raya” merupakan gerbang ekspor terbesar Ukraina, terutama untuk komoditas biji-bijian dan tanaman penghasil minyak.

“Operasi koridor kami telah terhenti—tidak sepenuhnya, tetapi arusnya jelas melambat secara signifikan. Lebih dari 20 kapal telah rusak,” kata Pletenchuk. Dia tetap optimistis dengan membandingkan 20 kapal tersebut dengan sekitar 200 kapal Rusia yang menurut Ukraina telah ditenggelamkan di Laut Azov dan Laut Hitam.

Constantine Sobol, pemilik perusahaan pelayaran berbasis di Odesa, Marelis Navigation, tidak seoptimistis Pletenchuk. Ia menilai pelabuhan-pelabuhan di kawasan tersebut, yang merupakan akses langsung terakhir Ukraina ke Laut Hitam, kini “98% tertutup.”

“Untuk saat ini, Anda bisa menganggapnya sebagai penghentian ekspor dan impor Ukraina melalui perairan dalam,” kata Sobol.

(bbn)

No more pages