Logo Bloomberg Technoz

Survei dilakukan terhadap 750 profesional HR level direktur ke atas di perusahaan dengan sedikitnya 1.000 karyawan di Amerika Serikat, Inggris, dan India.

Chief People Officer Cognizant Kathy Diaz mengatakan, AI mendorong perubahan mendasar terhadap kebutuhan keterampilan tenaga kerja, terutama pada posisi entry-level yang selama ini identik dengan pekerjaan administratif maupun operasional.

"Dengan perubahan mendasar pada tugas dan kebutuhan keterampilan di level entry-level yang berlangsung sangat cepat, organisasi harus memikirkan kembali cara merekrut dan mengembangkan talenta," kata Diaz dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (31/7/2026).

Meski perusahaan memandang AI akan membuka peluang pekerjaan baru, studi tersebut menemukan kesiapan organisasi masih tertinggal dibanding laju perubahan teknologi.

Sebanyak 91% responden melaporkan permintaan pelatihan AI dari karyawan meningkat dalam setahun terakhir. Namun, hanya 54% organisasi yang telah secara proaktif menyelenggarakan program peningkatan upskilling  atau keterampilan AI untuk mengantisipasi perubahan peran pekerjaan. Sementara, 46% lainnya belum mengambil langkah serupa.

Selain itu, 60% responden menilai program pembelajaran dan pengembangan (learning and development/L&D) di perusahaan belum mampu mengikuti cepatnya perubahan pekerjaan yang dipicu perkembangan AI.

Survei juga menunjukkan AI mulai mengubah kriteria perusahaan dalam merekrut tenaga kerja baru. Sebanyak 69% profesional HR menilai kandidat dengan latar belakang lintas disiplin kini lebih dibutuhkan dibanding mereka yang hanya memiliki keahlian spesifik di satu bidang.

Perubahan tersebut juga tercermin pada meningkatnya apresiasi terhadap kemampuan nonteknis. Sebanyak 67% responden mengaku kini lebih menghargai lulusan liberal arts dibanding sebelumnya, sementara 97% menyebut keterampilan seperti kemampuan beradaptasi, komunikasi, pemecahan masalah, dan human judgment menjadi semakin penting di era AI.

Di sisi lain, perusahaan mengaku masih menghadapi tantangan dalam memperoleh talenta yang sesuai dengan kebutuhan baru tersebut. Sebanyak 64% responden menyatakan kesulitan menemukan kandidat karena AI mengubah keterampilan yang dibutuhkan lebih cepat dibanding kemampuan pasar tenaga kerja untuk beradaptasi.

Temuan ini melanjutkan laporan Cognizant sebelumnya, New Work, New World 2026, yang menyebut AI telah memengaruhi sekitar 93% pekerjaan. Di tengah perubahan tersebut, Cognizant menyatakan tetap meningkatkan perekrutan talenta awal karier dengan merekrut sekitar 20.000 lulusan baru sepanjang 2025 dan menargetkan jumlah yang lebih tinggi pada 2026 sebagai bagian dari pengembangan tenaga kerja di era AI.

(red)

No more pages
← Prev article

Artikel Terkait

Baca Juga

Lainnya

Bloomberg Businessweek Indonesia

Z-Zone