Yuliot menyatakan B50 sudah tersedia di mayoritas SPBU di wilayah Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
Dia juga mengaku sempat meminta testimoni penggunaan B50 ke salah satu sopir truk di SPBU tersebut. Sopir itu, kata Yuliot, menyatakan B50 tak memiliki perbedaan dengan B40.
Yuliot menjelaskan supir tersebut mengaku bahwa solar B50 yang digunakan relatif irit dan diklaim tidak memengaruhi kinerja mesin kendaraan.
“Jadi testimoni yang disampaikan oleh jadi pelanggan Pertamina, itu justru yang pertama relatif irit, ini tidak ada perbedaan. Kemudian yang kedua dari sisi tarikan mesin mereka menyampaikan tidak ada pengaruh terhadap tarikan mesin jadi mereka tidak rasakan adanya perubahan dari implementasi B50,” klaim Yuliot.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan pemerintah akan fokus pada percepatan alur distribusi BBM melalui penambahan armada distribusi untuk mengatasi kelangkaan dan antrean panjang yang sempat terjadi di wilayah Sumatra Utara.
Laode menjelaskan akar masalah kelangkaan di daerah bukan terletak pada kurangnya kuota tahunan, melainkan pada ritme penyaluran dan armada distribusi yang perlu dievaluasi.
"Jumlah truk [pembawa BBM] biasanya berapa, nanti ditambahin berapa lagi," ujar Laode saat ditemui usai menghadiri acara peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek Blok Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026).
Ketika dimintai konfirmasi mengenai kepastian volume kuota BBM, Laode memastikan bahwa pemerintah tidak akan melakukan perubahan pada plafon kuota yang telah ditetapkan sejak awal tahun.
Adapun, Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menilai kekosongan stok dan antrean panjang pembelian BBM bersubsidi terjadi gegara fenomena panic buying, serta perubahan pola konsumsi dari BBM nonsubsidi ke subsidi.
“Ini hanya masalah panic buying, ini hanya masalah kondisi yang kurang perhatian dari seluruh masyarakat yang sama-sama mengantre di SPBU-SPBU sekitarnya,” kata Wahyudi dalam konferensi pers di Komisi XII DPR, Kamis (16/7/2026).
Wahyudi dalam pernyataannya mengindikasikan penguraian antrean dan kekosongan stok diprediksi rampung paling lambat pada Sabtu, (18/7/2026), sebab Pertamina telah menginstruksikan penambahan armada distribusi BBM dan mengerahkan prajurit TNI untuk membantu distribusi BBM.
Bahkan, lanjut Wahyudi, operasional terminal BBM dan sejumlah SPBU diputuskan buka selama 24 jam agar antrean yang terjadi dapat segera terurai.
“Sehingga kita sudah sepakat alokasi BBM di setiap regional yang menjadi titik kepadatan dan titik peningkatan ekonomi di masyarakat, ini semua akan diperlancar dan akan dipenuhi semuanya,” ujarnya.
(azr/wdh)





























