Sejumlah saham berhasil menguat tajam dan bertengger di jajaran top gainers, saham PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) yang melonjak 34,6%, saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) yang melesat 34,6%, dan saham PT Tifa Finance Tbk (TIFA) yang melejit 25%.
Sementara Bursa Asia lainnya menapaki jalur merah. KOSDAQ (Korea Selatan), Shenzhen Comp (China), SETI (Thailand), KOSPI (Korea Selatan), CSI 300 (China), PSEI (Filipina), Straits Times (Singapura), Shanghai Composite (China), TOPIX (Jepang), dan TW Weighted Index (Taiwan), yang terpangkas masing–masing 2,71%, 2,46%, 1,62%, 1,23%, 1,11%, 0,74%, 0,69%, 0,62%, 0,54%, dan 0,26%.
Selaras dengan IHSG, masih ada sejumlah indeks yang berhasil menguat, Ho Chi Minh Stock (Vietnam), NIKKEI 225 (Jepang), SENSEX (India), KLCI (Malaysia), dan Hang Seng (Hong Kong), yang masing–masing berhasil menghijau 2,35%, 0,71%, 0,35%, 0,28%, dan 0,2%.
Bursa Saham Asia tersengat kehati–hatian pasar mencermati perkembangan terbaru dari perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih gencar melangsungkan serangan.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, konflik AS dan Iran telah meningkat dalam beberapa hari baru–baru ini, sehingga mengurangi peluang tercapainya kesepakatan damai dalam jangka pendek.
Terlebih lagi, Presiden AS Donald Trump berjanji akan melakukan pembalasan setelah serangan Iran terhadap sebuah pangkalan militer di Yordania. Pasukan AS pun melancarkan "gelombang serangan besar–besaran" terhadap puluhan target Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), menurut Komando Pusat Amerika Serikat (Central Command/CENTCOM).
Perkembangan baru tersebut mendorong lonjakan harga minyak karena memicu ekspektasi perang akan berlangsung lebih lama dan risiko gangguan pasokan di Teluk Persia akan berkepanjangan.
Selain itu, pernyataan tersebut juga meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur pelayaran melalui Laut Merah, yang merupakan rute alternatif penting bagi perdagangan di kawasan.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat menembus harga US$84 per barel dan berada di jalur untuk kenaikan 5% point–to–point, sementara minyak Brent mengganas di harga US$90 per barel usai penguatan 6%, berdasarkan data Bloomberg yang dilihat pada Kamis sebelum sedikit mereda pada malam ini.
Seraya yang dipaparkan Phintraco Sekuritas, perdagangan saham rebound kendatipun terjadi kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan pada indeks bursa global, imbas gelombang serangan udara baru AS terhadap Iran sebagai balasan atas serangan terhadap pasukan di Timur Tengah. Sehingga menimbulkan kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi global.
Sementara itu, “Secara teknikal, IHSG ditutup di atas level MA5, MA20 dan MA50, serta masih bertahan di atas level 6,000. Stochastic RSI mendekati area oversold serta berpotensi mengalami golden cross. Sehingga diperkirakan IHSG melanjutkan penguatan menguji level 6.200–6.250 pada perdagangan Jumat (31/7/2026),” papar Phintraco dalam catatan terbarunya hari ini, Kamis.
Potensi yang atraktif juga dituturkan oleh Panin Sekuritas, IHSG berhasil ditutup di zona hijau, hingga ditutup di atas harmonic support 6.067.
“Stochastic golden cross di area oversold,” analisis Panin.
Dengan begitu, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju resistance MA50 di level 6.244, pada perdagangan Jumat esok hari.
(fad)
































